“Tana khögoe Jehowa, iwaö tödögoe, andö wa chönia oedöna-döna.”

Shanty’s Story from South Africa

S.S.S

(Shanty’s Story from South Africa)

Salam dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus.

Puji Tuhan buat kasih setia-Nya. Saat ini saya melayani di Teen Mission Afrika Selatan. Sekarang sudah musim semi, tapi cuacanya sama seperti musim panas dan disini sangat panas, tapi saya suka karena cuacanya tidak bedah jauh dengan Indonesia. Ada banyak tantangan , tapi Tuhan menolong saya sehingga saya dapat melewati semuanya itu. Saya bersyukur kepada Tuhan atas kasih setia-Nya dan pemeliharaan-Nya sehingga segla yang saya perlukan dipenuhi-Nya. Saya juga bersyukur untuk kesehatan dan kekuatan yang sempurna. Enam bulan sudah saya berada di Afrika Selatan dan ini merupakan Natal pertama di Afrika. Ada banyak pengalaman baru yang saya dapat di Afrika Selatan, seperti belajar budaya baru, bahasa dan juga makanan khas Afrika Selatan seperti “Pap dan Dombolo”. Ini merupakan suatu hal yang baru bagi saya. Saya sangat bersyukur dan juga sangat senang melayani Tuhan disini.

Pelayanan yang saya lakukan di sini yaitu membantu pelayanan anak yang disebut dengan MSSM (Motorcycle Sunday School Mission). Pertamakli melakukan pelayanan MSSM anak-anak datang dan bertanya kepada saya berapa umur saya lalu saya memberitahukan mereka bahwa saya berumur 28 tahun. Mereka sangat terkejut mendengarnya, karena mereka mengira bahwa umur saya sama dengan mereka. Hal ini sangat menyenangkan karena mereka sangat terkejut. Pertama kali saya melihat anak-anak di sini ( Afrika), saya merasa jijik dengan mereka, karena mereka kotor dan bau, hal itu membuat saya tidak mau mereka memeluk atau berjabat tangan dengan saya. Anak-anak senang bermain dengan rambut saya, untuk memastikan kalau rambut saya asli mereka menarik rambut saya sakit sekali tapi saya bersyukur karena rambut saya bisa menjadi berkat bagi mereka. Di samping itu saya juga melakukan pelayanan keluar untuk menginjili orang-orang yang berada di pinggir jalan.

Salah satu pelayanan yang begitu menyentuh hati saya yaitu “ Perempuan Samaria”. Ini merupakan pelayanan yang kami lakukan terhadap para pelacur. Setiap hari Rabu kami menemui mereka untuk mengundang mereka datang ke base Teen Mission guna mengajar mereka. Kelas yang kami ajarkan antara lain, menjahit, music, masak, membuat gelang, kalung, cincin dan anting. Pertama kali saya pergi ke tempat mereka untuk memngundang mereka saya sangat takut, karena sebelumnya saya belum pernah melakukan pelayanan seperti ini. Mama Karen Shrock dan saya pergi untuk mengundang mereka saat itu saya merasa jijik terhadap mereka karena saya berpikir bahwa mereka sangat kotor dan bau. Dengan berjalannya waktu Tuhan mengingatkan saya bahwa mereka itu sangat berharga, saya belajar untuk menerima mereka apa adanya. Kami mulai menjadi teman dan tidak ada rasa takut dan jijik karena kebaikan Tuhan. Saya bisa melihat bagaimana Tuhan bekerja dalam hati mereka. beberapa dari mereka mulai setia datang untuk diajar dan juga mendengarkan firman.

Salah satu dari Perempuan Samaria yang bernama Josephine, ia sangat setia datang setiap minggu untuk belajar segala sesuatu yang kami ajarkan. Dia adalah seorang yang senang tertawa, sperti saya! Saya bisa melihat kebahagiaan di wajahnya, tetapi saya tahu bahwa hatinya kosong. Saya berdoa supaya melalui semuanya ini Tuhan mengubah hatinya sehingga dia bisa mencintai Tuhan dan juga supaya dia memiliki kerinduan untuk mengenal Tuhan lebih dalam lagi, sehingga dengan demikian dia dapat meninggalkan kehidupan lamanya.

Seiring berjalannya waktu saya semakin dekat dengan mereka ( Perempuan Samaria) dan saya mengasihi mereka dan saya berharap mereka dapat diubahkan dan dipulihkan oleh kasih dan kemurahan Tuhan. Saya sangat senang berada di sini “Afrika Selatan” dimana saya bisa melihat bagaiman Tuhan mengubah kehidupan mereka.

Pada tanggal 5 & 6 September, di Pretoria telah diadakan Mission Fest. Saya turut mengambil bagian dalam even tersebut yakni sebagai volunteer yakni dengan menolong melakukan pelayanan kepada anak-anak di Mission Fest sebagai Pemimpin Pujian dimana saya mengajak anak-anak untuk memuji dan menari dihadapan Tuhan. Di Mission Fest kami memperkenalkan Negara Indonesia seperti budaya Indonesia kepada anak-anak. Kami berbagai cerita tentang makanan tradisional Indonesia, baju adat, binatang dan juga lagu-lagu dan masih banyak lagi. Anak-anak sangat tertarik terhadap Negara Indonesia dan mereka memberikan banyak pertanyaan tentang Indonesia. Puji Tuhan untuk semuanya itu!

Kepada semua teman-teman, saya sangat berterimakasih untuk dukungan doanya. Bagi mereka yanf dengan setia kepada Tuhan dengan mensuport saya setiap bulannya dalam doa dan dana, terimakasih. Terimakasih untuk kesetiaannya. Kiranya Tuhan memberkati kalian semuanya dengan limpahnya.

Ucapan Syukur:

  1. Bersyukur buat kesehatan
  2. Bersyukur buat hati untuk melayani di Afrika Selatan
  3. Bersyukur untuk pelayanan MSSM dan Perempuan Samaria

Pokok Doa:

  1. Untuk Hikmat, Pimpinan Tuhan dan kekuatan
  2. Pertumbuhan Rohani
  3. Kebutuhan Financial ( Sponsor )
  4. Beradaptasi dengan budaya setempat
  5. Untuk Sukacita dan Damai sejahtera.

Dalam Nama Tuhan Yesus

 

Shanty Lette

Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engaku; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.

Yesaya 41:10

Turn Your Eyes Upon JESUS

BERITA DARI TIA BUAYA

MISSIONARY DI AFRIKA SELATAN (SOUTH AFRICA)

PADA MUSIM GUGUR 2014

 

Kepada yang terkasih:

Keluarga,teman dan sponsor

Turn your eyes upon Jesus. Look full in His wonderful face. And the things of earth will grow strangely dim. In the light of His glory and grace. Dengan judul asli “The Heavenly Vision” (Turn your eyes upon Jesus)[1]

 

Pandanglah kepada Yesus, di dalam Kemuliaan-Nya. Dan semua kegelapan di dunia ini, akan diterangi di dalam Kemuliaan dan Anugerah-Nya. Salah satu lagu kesukaan saya untuk tetap berdiri teguh dalam panggilan Tuhan.

 

Saya bersyukur kepada Tuhan atas kesempatan melayani Dia lewat Teen Missions (Teen Mission International). Saya mempunyai pengalaman pelayanan luarbiasa yaitu yang disebut MSSM (Motorcycle Sunday School Mission) saya mengajar MSSM ini dari hari Selasa sampai Sabtu. Saya diberkati dengan mengajar phonics (mengajar membaca kata dan cara mengucapkannya), pelajaran Alkitab, permainan, quis dan ayat hafalan. Yang paling memberkati saya adalah mempelajari bahasa Sotho (Sutu) dimana bahasa ini sangat membantu berkomunikasi dengan anak-anak.

          Suatu hari di di kota Maboloka, seluruh mahasiswa dan sebagian staff melakukan pelayanan penginjilan (PI) kami khotbah dan menginjili orang, yang paling lucunya ketika saya pergi mengkhotbah di salah satu sekolah. Sebagian dari anak-anak sekolah ini memanggil saya “Cina” meskipun saya jelaskan bahwa saya berasal dari Indonesia (mungkin mereka tidak tahu di mana letak Indonesia). Ketika saya memperkenalkan diri saya, salah seorang guru bertanya kepada saya “ apakah kamu dari Cina? “ dan lagi saya jelaskan “ saya dari Indonesia”. Ketika kami meninggalkan sekolah itu dan melakukan pelayanan sore harinya, semua anak-anak di pinggir jalan memanggil saya “Cina”, saya hanya tersenyum.

          Saya juga bersyukur boleh mengajar Bible Study (belajar Alkitab), PI dan pelayanan Samaritan Ladies –pelayanan Perempuan Samaria (pelayanan kepada para pelacur-menjual diri mereka demi menutupi kebutuhan anak dan kelurga). Pelayanan yang mengesankan saya adalah waktu mengajar Samaritan Ladies ini membuat perhiasan, membuat/membakar roti, menjahit, membuat kerajinan tangan dan mengajar gitar. Sejujurnya saya tidak pernah berbicara dan dekat kepada para wanita ini di Indonesia karena perbedaan status sosial. Tetapi di Teen Mission South Africa (Teen Mission Afrika Selatan) saya menunjukkan terang Kristus dan membimbing mereka ke jalan yang benar, mencintai mereka dan tertawa bersama dengan mereka. mengajarkan saya bahwa Yesus Kristus mengasihi manusia di seluruh dunia dan menyelamatkan kita dari seluruh dosa kita, tidak masalah siapa kita, Dia tidak membedakan kita dari warna kulit, suku, budaya. Dia yang menciptakan kita, kita memerlukan mata rohani dari Tuhan. Kebanyakan Samaritan Ladies ini sudah berumur 30-45 tahun dan rata-rata mempunyai anak mulai umur 1-16 tahun. Doa saya untuk mereka kiranya mengenal Tuhan, mengasihi Tuhan dan bertumbuh dalam iman di dalam Kristus Yesus.

          Waktu yang paling luar biasa ketika kami membantu pelayanan Mission Fest (perayaan misi) tapi kami di pelayanan anak, tepatnya di kota Pretoria pada 5-6 September 2014 yang lalu. Anak-anak itu sangat menikmati lagu-lagu penyembahan, cerita Alkitab, permainan dan pemutaran film rohani, bahkan kami juga menunjukkan kebudayaan Indonesia. Salah satunya adalah memasak dan menghidangkan mie goreng (bihun goreng) dengan menggunakan sumpit, mereka sangat tertarik dan belajar menggunakan sumpit. Di kesempatan ini juga kami menggunakan baju adat dari Indonesia. Saya menggunakan Baju Adat Nias (BAru Hada Nono Niha) sedangkan teman saya Shanty memakai baju kebaya (baju adat Jawa).

          Tolong doakan keluarga saya khususnya di pulau Nias, khususnya buat Mama saya sebagai orang tua tunggal saya. Berdoa kiranya Tuhan memberi damai,sukacita di dalam hati beliau serta memiliki iman yang kuat di dalam Yesus Kristus.

          Terimakasih untuk doa, partisipasi dan support di dalam pelayanan missionary saya. Kiranya Tuhan membalaskan berlipat-lipat ganda.

Di dalam Anugerah-Nya

Tia Buaya

Mazmur 118:14

Nama lengkap:  Fatiada Buaya (Tia)

Alamat:              Desa Sisarahili, Kec.Sogae’adu-Nias

Kepada saudara yang mau berpatisipasi dalam pelayanan ini, berupa dana bisa mengirim kepada Yayasan Misi Remaja Internasional 87625976, dengan menulis untuk Tia, karena nomor rekening ini dipakai untuk umum dalam pelayanan. Terimakasih Tuhan Yesus memberkati.

Alamat pos di USA (America)

Teen Mission Int’l, Inc.

885 East Hall Road

Merritt Island, FL 32953-8418

E-mail:info@teenmissions.org 321-453-0350

Alamat pos di Canada

Teen Missions in Canada, Inc. PO Box 415

Outlook, SK SOL 2NO

E-mail:info@teenmissions.ca 306-867-9293

[1] Helen H. Lemmel , The New Church Hymnal, Lexicon Music, INC. USA ; 1976, hal. 344.

ALIRAN INJILI

ALIRAN INJILI

Dalam tulisan ini, pembahasan akan dimulai dengan penjelasan terhadap penyebab kemunculannya dalam sejarah dan dilanjutkan dengan perkembangannya di tempat di mana ia muncul. Pada bagian berikutnya akan diuraikan pengaruh dan kehadiran gerakan ini di Eropa, yang juga hadir di sana. Sebagaimana orang-orang kadang menyamakan gerakan ini dengan gerakan Karismatik, maka akan dibahas juga secara sederhana perbedaan gerakan ini dengan gerakan Karismatik. Setelah itu akan diuraikan awal kehadiran gerakan ini di Indonesia serta perkembangannya. Sebagaimana GKY merupakan salah satu buah yang dihasilkan oleh gerakan Injili, maka pada bagian berikutnya akan diuraikan secara sederhana tentang GKY sampai pada kehadirannya di Nias (yang merupakan fokus kecil dari makalah ini). Pada bagian berikutnya akan disajikan keyakinan dan ajaran dari gerakan ini yang dilanjutkan dengan melihat/mengevaluasi  gerakan ini. Pada bagian terakhir, akan ditarik kesimpulan dari seluruh uraian dalam buku ini. Selain itu, tulisan ini juga dilampiri beberapa hal (misalnya, hasil wawancara dengan gembala/pemimpin GKY di Nias) pada bagian belakangnya.

Untuk lebih jelasnya, baca selengkapnya di sini atau di sini

Tata Gereja & Peraturan BNKP

Tata Gereja & Peraturan BNKP

Dalam mengelola perkehidupan BNKP, perangkat peraturan merupakan sebuh keniscayaan. Usia pelayanannya yang sudah begitu lama, hampir 150 tahun (peringatan kedatangan Berita Injil di Kepulauan Nias sejak tanggal 27 September 1867), seluruh proses pelayanan diatur dalam berbagai jenis peraturan seperti namun tidak terbatas pada Ketetapan dan Keputusan Majelis Sinode, Peraturan BPMS dan BPHMS, Keputusan BPHMS, dan lain-lain.

Dengan adanya Tata Gereja BNKP Tahun 2007, yang memberikan paradigma baru terhadap perkehidupan BNKP, diperlukan jenjang peraturan, yang kemudian diatur dalam Keputusan BPMS No 10 Tahun 2008, tentang Tata Urutan (Jenjang) Peraturan Di BNKP.

 

Berikut perangkat peraturan yang telah disahkan di BNKP:

1. MS-TAP 2007-02 Pengesahan & Penetapan Tata gereja BNKP

2. BPMS-KEP 2008-10 Tata Urutan (Jenjang) Peraturan Di BNKP

3. BPMS-PER 2007-01 BPMS BNKP

4. BPMS-PER 2007-02 BPHMS BNKP

5. BPMS-PER 2008-03 Resort

6. BPMS-PER 2008-04 Jemaat

7. BPMS-PER 2008-05 Keuangan

8. BPMS-PER 2008-06 Unit Pelayanan

9. BPMS-PER 2008-07 Pelayan

10. BPMS-PER 2009-08 Badan Pengawas Penatalayanan

11. BPMS-PER 2012-11 Keanggotaan BNKP

12. BPMS-PER 2012-12 Tertib Penggembalaan

13. BPHMS-KEP 2008-164 Pedoman Tata Tertib Persidangan Majelis Resort di BNKP

14. BPHMS-KEP 2008-165 Tata Cara Penentuan Anggota Majelis Resort

15. BPHMS-KEP 2008-166 Tata Cara Pemilihan Anggota BPMR

16. BPHMS-KEP 2008-167 Pedoman Tata Tertib Persidangan Majelis Jemaat di BNKP

17. BPHMS-KEP 2008-168 Tata Cara Penentuan Anggota Majelis Jemaat

18. BPHMS-KEP 2008-169 Tata Cara Pemilihan Pemilihan Anggota BPMJ

19. BPHMS-KEP 2008-170 Lingkungan Pelayanan Satua Niha Keriso di BNKP

20. BPHMS-KEP 2008-206 Struktur Organisasi & Tata Kerja Sekretariat Kantor Resort di BNKP

21. BPHMS-KEP 2008-207 Struktur Organisasi & Tata Kerja Sekretariat Kantor Jemaat di BNKP]

22. BPHMS-KEP 2009-022 Petunjuk Pelaksanaan Penyelenggaraan Jemaat & Resort

23. BPHMS-KEP 2009-023 Syarat-syarat dan Mekanisme Pengangkatan Praeses di BNKP

24. Lamp- contoh papan merek & kop surat

25. Lamp- keuangan 1 dan

26. Lamp- keuangan 2

 

Ya’ahowu.

 

Sumber: Sinode BNKP

Visi, Misi & Struktur BNKP

Visi, Misi & Struktur BNKP

Visi

BNKP Teguh dalam Persekutuan dan menjadi Berkat bagi Dunia

 

Misi

  1. Meningkatkan kualitas spiritual warga jemaat yang menjiwai nilai-nilai dan iman kekristenan dalam seluruh dimensi kehidupan.
  2. Meningkatkan jumlah dan mutu para pelayan di BNKP, sehingga menjadi agen pembaharu, baik di dalam gereja maupun dalam masyarakat.
  3. Menata dan membangun persekutuan yang indah dan teguh di BNKP, berdasarkan kasih Kristus, yang menampakan kehidupan yang seia-sekata, sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, dan satu tujuan, baik yang sifatnya internal maupun eksternal.
  4. Memberdayakan warga jemaat, agar lepas dari kemiskinan dan keterbelakangan, serta memperoleh hidup dalam sejahtera (syalom/howu-howu).
  5. Mengupayakan kemandirian dana di BNKP.

 

Struktur Organisasi:

struktur-organisasi-bnkp

SUmber: Sinode BNKP

Sejarah BNKP Part III

Denninger, Tentang Kemandirian Gereja

Konsep Denninger

Konsep kemandirian yang sangat populer pada masa zending adalah Konsep Three-self (Self-propagating, Self-supporting dan Self-governing). Konsep ini merupakan pegangan umum yang terkenal di kalangan para Zendeling dalam melaksanakan Pekabaran Injil di daerah Misi. Konsep tersebut juga telah mempengaruhi Zendeling pertama di Nias, yakni E.L. Denninger. Konsep tersebut dijadikan sebagai prinsip dalam melakukan Pekabaran Injil. Gustav Manzel mengatakan bahwa dalam catatan Denninger, ia menyatakan:

Dalam melakukan Pekabaran Injil, perlu menentukan semacam pusat pelayanan. Untuk penyebaran ke tempat-tempat lain, perlu membina tenaga pribumi yang telah menjadi Kristen, agar mereka yang menyebarkannya. Orang-orang yang telah menjadi Kristen digembalakan agar dari hasil ladang atau ternak, mereka membantu kebutuhan para pelayan. Setelah jumlah mereka banyak, pada akhirnya di-harapkan merekalah yang mengadakan seluruh pembiayaan pelayanan.

Dari kutipan tersebut, terlihat jelas bahwa Missionaris Denninger, rasul Nias terebut mempunyai konsep memandirikan gereja di daerah Pekabaran Injil, yakni mengupayakan agar orang Nias sendiri yang melakukan Pekabaran Injil dan membiayai sendiri pelayanan dalam penumbuhan gereja.

Latar Belakang Konsep

Gagasan L.E. Denninger tentang pemandirian gereja hasil misi ini, dipengaruhi oleh dosen-dosennya ketika dibina di Seminari Barmen. Ada dua orang dosennya yang memiliki gagasan tentang pemandirian gereja, yaitu: Pertama: Gustav Warneck (1834-1910). Ia mengajar di Seminari Barmen hanya sebentar karena gangguan kesehatannya, namun ia mempunyai pengaruh besar dengan karya-karya tulisanya. Ia juga dilatar-belakangi oleh apa yang disebut neo-pietisme, sehingga menolak teologi liberal-sionalistis, walaupun di dalam teologianya muncul garis pemikiran rasionalistis yang cukup jelas. Bagi Warneck, missi adalah tugas rohani untuk mengalirkan hidup yang telah dimiliki gereja atau orang Kristen sejati kepada dunia kekafiran. Ini dilaksanakan dengan mengirimkan para zendeling, mendidik pengerja pribumi dan akhirnya mengkristenkan seluruh bangsa. Konsep ini disebut “Volkchristianisierung” dan bertolak dari Matius 28:19. Gagasan ini diteruskan/dikembangkan nantinya oleh anaknya yang juga missionaris di Tanah Batak, yakni J. Warneck. Johannes Warneck begitu antusias mengumandangkan soal “Gereja rakyat”. Sehingga, dengan mengambil contoh Indonesia, ia berkata bahwa yang terdapat hanyalah “gereja Batak”, “Gereja Jawa”, “gereja Minahasa” , “Gereja Nias”, dll. Subjek missi adalah gereja, sebab gereja adalah gereja yang missioner. Warneck yang juga mendalami gagasan Henry Venn dan Rufus Anderson, menekankan bahwa tugas mission adalah pengkristenan bangsa-bangsa, dan tujuan akhirnya adalah perwujudan Gereja Rakyat yang mandiri, hanya saja baginya jangan terburu-buru menyerahkan kepemimpin an kepada pengerja pribumi. Kemandirian ini tidak hanya sekedar memenuhi cita-cita Tri-Mandiri, melainkan mempunyai makna bahwa pengaruh kristianinya telah meresapi dan menguasai seluruh kehidupan bangsa.

Tokoh yang kedua yang mempengaruhi Denninger adalah A. Schreiber (1839-1903). Ia adalah teolog lulusan Universitas yang pertama di jajaran zendeling RMG. Ia dididik di lingkungan yang sangat diwarnai Pietisme dan teologia kebangunan. Baginya sangat penting pengkristenan seluruh bangsa dan dengan dipengaruhi oleh hasil stuidinya tentang teori mision, khususnya teori Tri-mandiri dari Henry Venn dan Rufus Anderson ketika ia belajar di Inggeris, maka ia melihat pentingnya membentuk Gereja Rakyat yang Mandiri, dan salah satu syaratnya adalah perlu mendidik para pengerja pribumi, serta menyarankan agar kepemimpinan Gereja, sekurang-kurangnya di tingkat setasi, harus diserahkan kepada pengerja pribumi.

Darimana sesungguhnya konsep tersebut, serta bagaimana gagasan Three-self tersebut ?

Konsep Three-self muncul dari pergumulan tentang pentingnya indigenisasi (pempribumian). Dalam indigenisasi ditekankan suatu kenyataan bahwa teologi dilakukan oleh dan untuk suatu wilayah geografis tertentu – oleh warga setempat untuk wilayah mereka.

Dari konsep “indigenisasi”, terformulasi suatu konsep yang disebut konsep “Three-self”, yakni Self-propagating, self-supporting dan self-governing (Memberitakan sendiri, membiayai sendiri dan memerintah sendiri). Gagasan Three-self tersebut dilahirkan oleh Henry Venn dan Rufus Anderson. Untuk memahami pengertian, ketika konsep ini dilahirkan, penting melihat gagasan pencetusnya (Henry dan Anderson).

Henry adalah anak dari John Venn (Rektor of Clapham, England). Pada tahun 1841 s.d. 1872 Henry menjadi Sekretaris Church Missionary Society, dari gereja Anglican. Gagasannya yang tertuang dalam surat-surat dan dokumen-dokumen diedit oleh Max Warren. Didorong oleh ketidak-setujuannya atas paternalistik missionaris Barat atau sikap ‘supervisors’, ‘director’ dan ‘paymaster’ terhadap orang-orang Asia, Afrika dan Caribbean, maka Henry Venn memformulasikan secara baru goal missi dengan menekankan three-self. Bagi Henry, tujuan missi yang paling istimewah hendaknya dipandang dari hasilnya, yakni melahirkan gereja pribumi di bawah pelayanan dan kepemimpinan pendeta pribumi dan mampu membiayai diri sendiri. Untuk dapat mencapai tujuan tersebut, maka para missionaris hendanya memberi perhatian pada pelatihan terhadap pribumi agar menjadi pendeta. Sedangkan pembinaan jemaat setempat biarlah dilakukan oleh para pendeta pribumi. Merupakan “euthanasia missi” bila tugas pembinaan jemaat diambil-alih oleh para missionaris. Lebih jauh, Henry mengharapkan agar pada akhirnya, para missionaris dan badan-badan missi ditransfer pada gereja setempat. Henry sendiri sangat bersemangat mengimplementasikan gagasan tersebut, misalnya dengan pengangkatan Bishop pribumi di gereja Nigeria, penyerahan kuasa dan administrasi dalam pengelolaan sekolah kepada pribumi, serta penempatan pelayan pribumi pada posisi-posisi penting dalam gereja. Apakah Henry Venn berhasil? Verkuyl mencatat bahwa upaya Henry Venn menerapkan gagasannya tersebut belum begitu berhasil saat itu, karena keterbatasan kaum pribumi menjabarkan ide Henry Venn tersebut.

Tokoh kedua pencetus ide three-self adalah Rufus Anderson (1796-1880). Dia pernah menjadi sekretasi badan missi, yakni: American Board of Commissionars for Foreign Mission (tahun 1826-1866). Bila Henry Venn seorang Anglican, maka Anderson adalah Congregationalist. Mereka memang berbeda dalam hal sistem pemerintahan gereja, namun keduanya memiliki persepsi yang sama dalam memandirikan atau mempribumikan gereja-gereja yang telah tumbuh dari pekerjaan zending Barat.

Anderson yang memberi penekanan pada three-self, mengemukakan bahwa missi adalah lembaga bagi penyebaran Injil, yang pemberitaannya dilakukan oleh orang-orang kristen sendiri (Missions are instituted for the spread of a scriptural, self propagating christianity). Dalam hal itu ada empat unsur penting lainnya yang menunjang pekabaran Injil, yakni: (1) menobatkan orang-orang yang hilang (Converting of lost human beings), (2) mengorganisir mereka dalam gereja (Organizing them into churches) (3) Memampukan gereja-gereja dengan melatih pelayan-pelayan pribumi agar mereka mempunyai kecakapan (Providing the churches with competent native ministers, dan 4) memimpin gereja pada tingkat kemandirian dan memberitakan sendiri (Conducting the church to the stage of independence and (in most cases) of self-propagating.

Gagasan-gagasan Anderson ini, mula-mula disodorkan untuk zending Amerika, agar di dalam menanam dan menumbuhkan gereja pribumi menggunakan prinsip self-governing (Memerintah sendiri), Self-supporting (membiayai sendiri) dan self-propagating (memberitakan sendiri). Gagasan Anderson ini dikembangkan oleh John Nevius pada tahun 1880-an, dalam pengembangan missi Presbyterian di Korea. Nevius menggambarkan metode pempribumian gereja dalam enam prinsip penting, yakni: Pertama, setiap orang tetap tinggal dalam keadaan seperti waktu ia dipanggil Allah. Mereka hidup dan membiayai hidup seperti sebelumnya. Kedua, percaya akan tenaga sukarela untuk tugas perintisan. Ketiga, menempatkan gereja dalam kehidupan rumah tangga. Keempat, supervisi gereja dilakukan oleh evangelis bayaran. Kelima, memperluas pelatihan pengkhotbah, pengajar katekisasi, pemimpin Penelaah Alkitab. Keenam, gereja yang dibangun hendaknya membiayai diri sendiri.

Itulah konsep dari Three-self yang dilahirkan oleh Venn dan Andreson. Konsep tersebut memberi pengertian bahwa menjadi tugas panggilan setiap individu untuk bersekutuan dengan umat Allah, dan kemudian membentuk dan memperlengkapi mereka sebagai jemaat. Dan menurut pencetus konsep Three-self bahwa aspek tersebut di atas sangat diperlukan dalam tugas panggilan Pekabaran Injil. Namun demikian, pada pihak lain konsep three-self ini mempunyai kelemahan. Menurut evaluasi Verkuyl, ada empat kelemahan dari konsep three-self, yakni (1) Terlalu berpusat pada gereja (ecclesiocentric) dari pada Kerajaan Allah. Padahal pusat kesaksian Alkitab adalah Kerajaan Allah. (2) Dalam konsep three-self memberi kesan bahwa ciri gereja yang benar adalah yang mampu membiayai sendiri (self-supporting), padahal gereja dipanggil dendam dan celaan terhadap gereja yang miskin yang tidak dapat membiayai sendiri. (3) Bahwa konsep Three-self dapat membongkar dan memutuskan hubungan antar gereja. (4) Kelahiran konsep Three-self adalah di Barat, dimana yang melakukan Pekabaran Injil bukan lembaga gereja, melainkan missionary societies. Ini berbeda dengan di daerah missi, sehingga dapat menimbulkan perdebatan.

Walaupun konsep three-self dalam perdebatan, namun gagasan tersebut, ternyata mendapat respons dari kalangan missionaris. Konsep Three-self dijadikan sebagai salah satu pedoman dalam memandirikan “gereja muda”, hasil pelayanan para Missionaris di daerah missi. Terlebih-lebih setelah digumuli tentang kegiatan missi dalam beberapa konferensi, seperti: Konferensi Edinburgh tahun 1910, di Yerusalem 1928 dan di Tambaran tahun 1938. Walaupun Zending masih mempertahankan soal superiority barat, namun gagasan three-self dijadikan sebagai prinsip dan pedoman Pekabaran Injil dalam memandirikan gereja-gereja yang tumbuh oleh pekerjaan Missionaris. Formulasi inilah yang mempengaruhi para missionaris/teolog melihat kemandirian gereja pada pelembagaan suatu gereja (berdirinya sinode yang dipimpin oleh pribumi).

Konsep dan Implementasinya: Zaman Zending?

Bila melakukan pengkajian secara umum, dapat disimpul¬kan bahwa pada masa zending terlihat para misionaris berupaya memandirikan gereja di Nias, baik di bidang teologi, maupun bidang daya dan dana. Dalam kurun waktu 75 tahun (1865 – 1940), gereja-gereja di Nias yang lahir dari pekerjaan Zending, telah ditata seoptimal mungkin oleh para misionaris, baik pengajaran, peribadatan, tenaga, sumber dan sistem keuangan, maupun sistem pengorganisasiannya, sehingga melembaga dengan nama Banua Niha Keriso Protestan, disingkat BNKP.

Merupakan hal yang penting dan memberi ciri khas dari gereja BNKP adalah gerakan yang disebut “Fangesa dodo“ (Gerakan Pertobatan Massal). Gerakan ini yang mempercepat penginjilan, yang memberi warna teologi, sistem dan yang menggerakkan daya dan dana dari Ono Niha dalam pengembangan Pekabaran Injil dan pemandirian BNKP. Gerakan ini yang membuat gereja Nias, oleh Walter Lempp menyebutnya dengan “Gereja rakyat”. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pemikiran dan upaya menuju kemandirian BNKP harus dilihat dalam gerakan pertobatan massal yang disebut Fangesa dodo sebua.

Hanya yang menjadi soal pada masa zending adalah isi dari Teologi yang dikembangkan melalui pengajaran dan dengan pendekatan terjemahan. Dalam kancah “Fangesa dodo”, terlihat jiwa dan ciri dari “pietisme” yang juga melatar-belakangi para misionaris yang sebelumnya dididik di sekolah zending di Barmen. Hal itu terungkap dalam menyingkapi problema aktual yang dihadapi oleh masyarakat pada waktu itu, yakni kemiskinan, keterbelakangan dan dijajah oleh pemerintah Hindia Belanda. Bidang ini masih belum banyak disentuh. Hal lain adalah dalam hubungan dengan budaya. Memang misionaris menggunakan unsur budaya, khususnya bahasa, baik dalam komunikasi maupun dalam terjemahan (Alkitab, Buku zinuno, Liturgi, dan buku-buku pengajaran), namun banyak unsur budaya yang dieliminir, apalagi yang berkaitan dengan “agama suku Ono Niha”. Hal itu terungkap dalam “Amakhoita” dan Tata Gereja. Akibatnya terjadi tarik-menarik yang terus menerus dalam hubungan Injil dan Budaya Nias.

Mengenai kemandirian daya. Kita melihat bahwa para misionaris telah berupaya mengembangkan pendidikan di Nias. Bahkan gerejalah yang pertama membuka sekolah di Nias, baik sekolah umum (sekolah zending) maupun pembinaan, kursus para pelayan gereja. Sehingga dalam kurun waktu 75 tahun telah banyak orang Nias yang menjadi pelayan, yang dapat memberitakan sendiri (Self-propagadin). Artinya kebaktian di jemaat-jemaat dapat berjalan dengan baik di bawah pelayanan dan kepemimpinan para Sinenge dan Guru, serta dukungan dari para Satua Niha Keriso dan para Salawa atau Tuhe¬ori. Tenaga pendeta pribumi, pada tahun 1939 telah 20 orang yang aktif melayani. Mereka ditempatkan sebagai pendeta Distrik.

Tenaga pelayan yang telah dipersiapkan itulah merupakan pendukung utama dalam pelayanan di BNKP pada masa zending. Artinya, kelangsungan kegiatan peribadatan, pembinaan atau pengajaran, serta kegiatan pendidikan tidak hanya dikerjakan oleh para misionaris, melainkan didukung oleh warga dan tenaga pelayan pribumi yang ada. Hanya saja, hingga tahun 1939, pelayan pribumi belum menem¬pati kedudukan sebagai Praeses atau pada tingkat sinodal. Artinya mereka belum dipersiapkan untuk kepemimpinan (Self-governing).

Mengenai upaya kemandirian dana (Self-supporting), kita melihat bahwa para misionaris telah berusaha menciptakan keman¬dirian dana. Tidaklah beralasan bila dikatakan bahwa tidak ada usaha misionaris menciptakan kemandirian dana pada masa zending. Justru dengan dukungan besar dari Ono Niha yang menjadi Kristen, maka pelayanan gereja di Nias dapat tercipta. Memang mulanya terlihat praktek “memberi dengan cuma-cuma”, tetapi kemudian justru mereka mengupayakan dukungan dana dari warga jemaat, misalnya: dalam pembangunan gedung gereja, sekolah, pengumpulan persembahan dan sumbangan, aksi u’alui dalifusogu, pengangkatan sinenge guna memperkecil pembiayaan dan menata adminitrasi keuangan dengan sistem sentralisasi di aras ressort.

Hanya yang menjadi persoalan adalah bahwa penggalian dana dari warga jemaat harus diikuti dengan pengembangan ekonomi jemaat. Hal ini belum banyak disentuh oleh misionaris, kecuali dengan pendekatan mentalitas, yakni mengajak orang Nias agar jangan terlalu besar “mas kawin” pada pesta perkawinan, karena itu dapat memiskinkan. Selanjutnya sistem pengelolaan keuangan yang menciptakan ketergantungan. Pada masa zending, segenap uang masuk disetor ke Ressort, baru kemudian Ressortlah yang bertanggung-jawab membayar biaya pelayan dan pelayanan. Hal ini telah menciptakan ketergantungan. Juga pendekatan Pekabaran Injil yang pada awalnya diumpan dengan pemberian-pemberian, dapat menjadi penghalang dalam menggali swadaya.

Dengan mengemukakan simpul-simpul tersebut di atas, maka telah memberi potre kemandirian BNKP pada masa zending, baik di bidang teologi, maupun daya dan dana, dengan segala bentuk, keunggulan dan kelemahannya.

Kemandirian Gereja: Pergumulan Oikumenis

Pada dekade 80-an, muncul kembali kesadaran kuat akan pentingnya pempribumian Injil, sehingga gereja-gereja di Indonesia memunculkan gagasan dengan istilah Kemandirian Gereja di bidang Teologi, Daya dan Dana. Itulah salah satu keputusan Sidang Raya X DGI tahun 1984 di Ambon dengan dihasilkannya Lima Dokumen Keesaan Gereja di Indonesia (LDKG). Dokumen V dari LDKG tersebut adalah “Menuju Kemandirian Theologia, Daya dan Dana”. Dokumen I-IV merupakan pernyataan dan pengakuan, sedangkan dokumen V lebih bersifat gagasan dan pedoman untuk dikembangkan oleh gereja-gereja. Gagasan tersebut berisikan kesadaran akan ketergantungan, dan pokok-pokok pikiran, pokok-pokok program untuk melepaskan diri dari ketergantungan dan menuju kemandirian, baik menyangkut Teologi, daya maupun dana.

Konsep kemandirian itu sendiri telah lama muncul dalam istilah yang berbeda, seperti Penatalayanan, Berdikari, Theologia In Loco, dan sebagainya. Akan tetapi baru mulai terungkap secara sistematis pada Sidang Raya IX DGI 1980 di Tomohon. Sidang Raya IX tersebut memperbahaui tekad bersama gereja-gereja Indonesia, yakni agar gereja-gereja meningkatkan upaya untuk “membaharui, membangun dan mempersatukan gereja dengan kemandirian gereja di bidang Teologi, daya dan dana, demi tugas panggilan bersama di seluruh Indonesia. Pemunculan gagasan kemandirian tersebut adalah dalam rangka mewujudkan keesaan dengan saling menopang atau mendukung, serta sebagai ungkapan kedesawaan. Gereja-gereja di Indonesia menyadari akan keter-gantungannya pada badan zending atau gereja-gereja di luar negeri. Dengan jelas ditegaskan:

Pada permulaan gereja-gereja di Indonesia, yaitu dalam zaman zending, maka ‘pangkalan’ bagi teologi, daya dan dana berada di gereja-gereja luar negeri yang mengutus para missionaris ke Indonesia. Sekarang, ‘pangkalan’ itu harus dikembangkan di Indonesia sendiri secara kontekstual dengan tetap memelihara hubungan saling melayani dengan gereja-gereja di luar negeri sebagai ungkapan dari keuniversalan gereja.

Dengan memahami masalah tersebut di atas (masalah ketergantungan), maka gereja-gereja di Indonesia merasa bertanggung-jawab untuk menuju kemandirian. Pengertian kemandirian gereja menurutdokumen V adalah suatu upaya bersama terus-menerus memperkembangkan semua kemampuan (potensi) dan pemberian Tuhan secara bebas dan bertanggung-jawab bagi persekutuan, pelayanan dan kesaksian. Melalui proses kebersamaan itu gereja menuju kedewasaan penuh dan tingkapertumbuhan sesuai dengan kepenuhan Kristus (Efesus 4:23). Di sisi lain dinyatakan bahwa gereja-gereja di Indonesia harus/mutlak mandiri mengingabahwa gereja-gereja berada di tengah-tengah dan adalah bagian integral dari bangsa Indonesia yang tengah mempersiapkan diri menuju tinggal landas, yang berarti menyelenggarakan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, serta melaksanakan pembangunan Nasional sebagai pengamalan Pancasila.

Untuk mencapai cita-cita kemandirian, maka dalam dokumen V telah disusun kerangka dasar dalam menyusun program yang menyang kubeberapa faktor, yaitu :

  1. Pola-pola pelayanan, kepemimpinan, keteladanan dalam pembinaan kemandirian.
  2. Faktor-faktor sosial budaya yang mendorong maupun yang menghambat pertumbuhan kemandirian.
  3. Bentuk-bentuk persembahan maupun yang menghambat pertumbuhan kemandirian.
  4. Pemanfaatan bantuan luar negeri, baik tenaga, dana maupun pandangan teologi.
  5. Pendayagunaan milik-milik gereja secara tepat, agar dapat mendukung kemandirian.
  6. Dampak modernisasi, ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dengan memperhatikan faktor-faktor tersebut di atas, sambil memperhatikan kondisi yang dihadapi dan menghitung potensi yang ada termasuk soal struktur, disusun program menyangkukemandiri an Teologi, daya dan dana. Program menuju kemandirian di bidang teologi menurut dokumen lima LDKG menyangkupenyediaan bahan-bahan dan bimbingan pembacaan Alkitab serta meningkatkan berteologi dengan kemampuan merumuskan jawaban atas persoalan-persoalan konkri dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara dan bergereja. Dalam hal ini penting melibatkan warga jemaa dari semua lapisan. Program menuju kemandirian daya, menyangkupeningkatan kualitas, mutu para pelayan dan warga jemaat, demi menjalankan tugas kesaksian dan pelayanan gereja dalam konteksnya. Dalam rangka peningkatan kualitas (dewasa dalam iman, mental, pengetahuan dan ketrampilan), maka pendidikan merupakan hal yang penting. Sedangkan program menuju kemandirian dana menyangku penalayanan dan pengelolaan keuangan/harta benda, peningkatan kesadaran memberi (persembahan), dan peningkatan pendapatan masyaraka dengan program-program di bidang perkoperasian, pertanian, kewiraswastaan dan lain-lain.

Kalau kita berbicara tentang dokumen V dari LDKG (Menuju Kemandirian Teologi, daya dan dana), maka pada satu pihak dapat dikatakan bahwa gereja-gereja di Indonesia telah menghasilkan dokumen yang berharga yang lahir dari pergumulan yang dihadapi kontemporer serta dalam pergumulan bersama dibawah tekad membangun, membaharuai dan mempersatukan. Akan tetapi pada pihak lain, ada yang melihabahwa dokumen-dokumen tersebut belum terumus dengan baik dan serta belum mengakar dalam konteksnya. John Titaley dengan gigih menjelaskan bahwa LDKG yang telah dihasil kan oleh gereja-gereja di Indonesia telah salah metodologis dalam berteologi, yaitu melalaikan konteksnya, realitas nasional bangsa Indonesia. John Titaley meliha gereja-gereja hanya memberi perhatian pada realitas primodial, seperti denominasi, suku, daerah, golongan dan sebagainya, dan itulah suatu metodologis berteologi yang kurang tepat. Karenanya Titaley mengusulkan perlunya berteologi kontekstual dalam merumuskan LDKG dengan memperhatikan realitas Nasional, yakni bangsa Indonesia yang telah merdeka 17 Agustus 1945 dan berdasarkan Pancasila. Dengan demikian Titaley mengusulkan pembentukan Gereja Kristen Yang Esa di Indonesia (GKEI), serta melengkapi GKEI tersebutdengan PBIK, Tata Dasar dan PTPB, dan inilah upaya berteologi dalam konteks Indonesia. Pada pihak lain, gereja-gereja justru masih mempertahankan LDKG ini, karena melihabahwa dengan lima dokumen tersebut merupakan kemajuan dalam gerakan oikumenis di Indonesia. Dalam Sidang Raya 12, tahun 1994 di Jayapura, justru LDKG tersebutlah yang digumuli dan terus dikembangkan, sesuai dengan pergumulan yang dihadapi.

Itulah sepintas latar-belakang kelahiran, konsep dasar menyusun program serta pokok-pokok program menuju kemandirian teologi, daya dan dana dari dokumen V Lima Dokumen Keesaan Gereja di Indonesia.

Persoalan lanjutan adalah sejauh mana gereja-gereja di Indonesia menggumuli permasalahan yang dialaminya sehingga tetap berada dalam ketergantungan, serta penyusunan langkah-langkah yang harus ditempuh dalam menuju kemandirian gereja, sesuai konteks dimana gereja itu berada. Kapan?

 

Ya’ahowu

 

Sumber: Sinode BNKP


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.