“Tana khögoe Jehowa, iwaö tödögoe, andö wa chönia oedöna-döna.”

ALIRAN INJILI

ALIRAN INJILI

Dalam tulisan ini, pembahasan akan dimulai dengan penjelasan terhadap penyebab kemunculannya dalam sejarah dan dilanjutkan dengan perkembangannya di tempat di mana ia muncul. Pada bagian berikutnya akan diuraikan pengaruh dan kehadiran gerakan ini di Eropa, yang juga hadir di sana. Sebagaimana orang-orang kadang menyamakan gerakan ini dengan gerakan Karismatik, maka akan dibahas juga secara sederhana perbedaan gerakan ini dengan gerakan Karismatik. Setelah itu akan diuraikan awal kehadiran gerakan ini di Indonesia serta perkembangannya. Sebagaimana GKY merupakan salah satu buah yang dihasilkan oleh gerakan Injili, maka pada bagian berikutnya akan diuraikan secara sederhana tentang GKY sampai pada kehadirannya di Nias (yang merupakan fokus kecil dari makalah ini). Pada bagian berikutnya akan disajikan keyakinan dan ajaran dari gerakan ini yang dilanjutkan dengan melihat/mengevaluasi  gerakan ini. Pada bagian terakhir, akan ditarik kesimpulan dari seluruh uraian dalam buku ini. Selain itu, tulisan ini juga dilampiri beberapa hal (misalnya, hasil wawancara dengan gembala/pemimpin GKY di Nias) pada bagian belakangnya.

Untuk lebih jelasnya, baca selengkapnya di sini atau di sini

Tata Gereja & Peraturan BNKP

Tata Gereja & Peraturan BNKP

Dalam mengelola perkehidupan BNKP, perangkat peraturan merupakan sebuh keniscayaan. Usia pelayanannya yang sudah begitu lama, hampir 150 tahun (peringatan kedatangan Berita Injil di Kepulauan Nias sejak tanggal 27 September 1867), seluruh proses pelayanan diatur dalam berbagai jenis peraturan seperti namun tidak terbatas pada Ketetapan dan Keputusan Majelis Sinode, Peraturan BPMS dan BPHMS, Keputusan BPHMS, dan lain-lain.

Dengan adanya Tata Gereja BNKP Tahun 2007, yang memberikan paradigma baru terhadap perkehidupan BNKP, diperlukan jenjang peraturan, yang kemudian diatur dalam Keputusan BPMS No 10 Tahun 2008, tentang Tata Urutan (Jenjang) Peraturan Di BNKP.

 

Berikut perangkat peraturan yang telah disahkan di BNKP:

1. MS-TAP 2007-02 Pengesahan & Penetapan Tata gereja BNKP

2. BPMS-KEP 2008-10 Tata Urutan (Jenjang) Peraturan Di BNKP

3. BPMS-PER 2007-01 BPMS BNKP

4. BPMS-PER 2007-02 BPHMS BNKP

5. BPMS-PER 2008-03 Resort

6. BPMS-PER 2008-04 Jemaat

7. BPMS-PER 2008-05 Keuangan

8. BPMS-PER 2008-06 Unit Pelayanan

9. BPMS-PER 2008-07 Pelayan

10. BPMS-PER 2009-08 Badan Pengawas Penatalayanan

11. BPMS-PER 2012-11 Keanggotaan BNKP

12. BPMS-PER 2012-12 Tertib Penggembalaan

13. BPHMS-KEP 2008-164 Pedoman Tata Tertib Persidangan Majelis Resort di BNKP

14. BPHMS-KEP 2008-165 Tata Cara Penentuan Anggota Majelis Resort

15. BPHMS-KEP 2008-166 Tata Cara Pemilihan Anggota BPMR

16. BPHMS-KEP 2008-167 Pedoman Tata Tertib Persidangan Majelis Jemaat di BNKP

17. BPHMS-KEP 2008-168 Tata Cara Penentuan Anggota Majelis Jemaat

18. BPHMS-KEP 2008-169 Tata Cara Pemilihan Pemilihan Anggota BPMJ

19. BPHMS-KEP 2008-170 Lingkungan Pelayanan Satua Niha Keriso di BNKP

20. BPHMS-KEP 2008-206 Struktur Organisasi & Tata Kerja Sekretariat Kantor Resort di BNKP

21. BPHMS-KEP 2008-207 Struktur Organisasi & Tata Kerja Sekretariat Kantor Jemaat di BNKP]

22. BPHMS-KEP 2009-022 Petunjuk Pelaksanaan Penyelenggaraan Jemaat & Resort

23. BPHMS-KEP 2009-023 Syarat-syarat dan Mekanisme Pengangkatan Praeses di BNKP

24. Lamp- contoh papan merek & kop surat

25. Lamp- keuangan 1 dan

26. Lamp- keuangan 2

 

Ya’ahowu.

 

Sumber: Sinode BNKP

Visi, Misi & Struktur BNKP

Visi, Misi & Struktur BNKP

Visi

BNKP Teguh dalam Persekutuan dan menjadi Berkat bagi Dunia

 

Misi

  1. Meningkatkan kualitas spiritual warga jemaat yang menjiwai nilai-nilai dan iman kekristenan dalam seluruh dimensi kehidupan.
  2. Meningkatkan jumlah dan mutu para pelayan di BNKP, sehingga menjadi agen pembaharu, baik di dalam gereja maupun dalam masyarakat.
  3. Menata dan membangun persekutuan yang indah dan teguh di BNKP, berdasarkan kasih Kristus, yang menampakan kehidupan yang seia-sekata, sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, dan satu tujuan, baik yang sifatnya internal maupun eksternal.
  4. Memberdayakan warga jemaat, agar lepas dari kemiskinan dan keterbelakangan, serta memperoleh hidup dalam sejahtera (syalom/howu-howu).
  5. Mengupayakan kemandirian dana di BNKP.

 

Struktur Organisasi:

struktur-organisasi-bnkp

SUmber: Sinode BNKP

Sejarah BNKP Part III

Denninger, Tentang Kemandirian Gereja

Konsep Denninger

Konsep kemandirian yang sangat populer pada masa zending adalah Konsep Three-self (Self-propagating, Self-supporting dan Self-governing). Konsep ini merupakan pegangan umum yang terkenal di kalangan para Zendeling dalam melaksanakan Pekabaran Injil di daerah Misi. Konsep tersebut juga telah mempengaruhi Zendeling pertama di Nias, yakni E.L. Denninger. Konsep tersebut dijadikan sebagai prinsip dalam melakukan Pekabaran Injil. Gustav Manzel mengatakan bahwa dalam catatan Denninger, ia menyatakan:

Dalam melakukan Pekabaran Injil, perlu menentukan semacam pusat pelayanan. Untuk penyebaran ke tempat-tempat lain, perlu membina tenaga pribumi yang telah menjadi Kristen, agar mereka yang menyebarkannya. Orang-orang yang telah menjadi Kristen digembalakan agar dari hasil ladang atau ternak, mereka membantu kebutuhan para pelayan. Setelah jumlah mereka banyak, pada akhirnya di-harapkan merekalah yang mengadakan seluruh pembiayaan pelayanan.

Dari kutipan tersebut, terlihat jelas bahwa Missionaris Denninger, rasul Nias terebut mempunyai konsep memandirikan gereja di daerah Pekabaran Injil, yakni mengupayakan agar orang Nias sendiri yang melakukan Pekabaran Injil dan membiayai sendiri pelayanan dalam penumbuhan gereja.

Latar Belakang Konsep

Gagasan L.E. Denninger tentang pemandirian gereja hasil misi ini, dipengaruhi oleh dosen-dosennya ketika dibina di Seminari Barmen. Ada dua orang dosennya yang memiliki gagasan tentang pemandirian gereja, yaitu: Pertama: Gustav Warneck (1834-1910). Ia mengajar di Seminari Barmen hanya sebentar karena gangguan kesehatannya, namun ia mempunyai pengaruh besar dengan karya-karya tulisanya. Ia juga dilatar-belakangi oleh apa yang disebut neo-pietisme, sehingga menolak teologi liberal-sionalistis, walaupun di dalam teologianya muncul garis pemikiran rasionalistis yang cukup jelas. Bagi Warneck, missi adalah tugas rohani untuk mengalirkan hidup yang telah dimiliki gereja atau orang Kristen sejati kepada dunia kekafiran. Ini dilaksanakan dengan mengirimkan para zendeling, mendidik pengerja pribumi dan akhirnya mengkristenkan seluruh bangsa. Konsep ini disebut “Volkchristianisierung” dan bertolak dari Matius 28:19. Gagasan ini diteruskan/dikembangkan nantinya oleh anaknya yang juga missionaris di Tanah Batak, yakni J. Warneck. Johannes Warneck begitu antusias mengumandangkan soal “Gereja rakyat”. Sehingga, dengan mengambil contoh Indonesia, ia berkata bahwa yang terdapat hanyalah “gereja Batak”, “Gereja Jawa”, “gereja Minahasa” , “Gereja Nias”, dll. Subjek missi adalah gereja, sebab gereja adalah gereja yang missioner. Warneck yang juga mendalami gagasan Henry Venn dan Rufus Anderson, menekankan bahwa tugas mission adalah pengkristenan bangsa-bangsa, dan tujuan akhirnya adalah perwujudan Gereja Rakyat yang mandiri, hanya saja baginya jangan terburu-buru menyerahkan kepemimpin an kepada pengerja pribumi. Kemandirian ini tidak hanya sekedar memenuhi cita-cita Tri-Mandiri, melainkan mempunyai makna bahwa pengaruh kristianinya telah meresapi dan menguasai seluruh kehidupan bangsa.

Tokoh yang kedua yang mempengaruhi Denninger adalah A. Schreiber (1839-1903). Ia adalah teolog lulusan Universitas yang pertama di jajaran zendeling RMG. Ia dididik di lingkungan yang sangat diwarnai Pietisme dan teologia kebangunan. Baginya sangat penting pengkristenan seluruh bangsa dan dengan dipengaruhi oleh hasil stuidinya tentang teori mision, khususnya teori Tri-mandiri dari Henry Venn dan Rufus Anderson ketika ia belajar di Inggeris, maka ia melihat pentingnya membentuk Gereja Rakyat yang Mandiri, dan salah satu syaratnya adalah perlu mendidik para pengerja pribumi, serta menyarankan agar kepemimpinan Gereja, sekurang-kurangnya di tingkat setasi, harus diserahkan kepada pengerja pribumi.

Darimana sesungguhnya konsep tersebut, serta bagaimana gagasan Three-self tersebut ?

Konsep Three-self muncul dari pergumulan tentang pentingnya indigenisasi (pempribumian). Dalam indigenisasi ditekankan suatu kenyataan bahwa teologi dilakukan oleh dan untuk suatu wilayah geografis tertentu – oleh warga setempat untuk wilayah mereka.

Dari konsep “indigenisasi”, terformulasi suatu konsep yang disebut konsep “Three-self”, yakni Self-propagating, self-supporting dan self-governing (Memberitakan sendiri, membiayai sendiri dan memerintah sendiri). Gagasan Three-self tersebut dilahirkan oleh Henry Venn dan Rufus Anderson. Untuk memahami pengertian, ketika konsep ini dilahirkan, penting melihat gagasan pencetusnya (Henry dan Anderson).

Henry adalah anak dari John Venn (Rektor of Clapham, England). Pada tahun 1841 s.d. 1872 Henry menjadi Sekretaris Church Missionary Society, dari gereja Anglican. Gagasannya yang tertuang dalam surat-surat dan dokumen-dokumen diedit oleh Max Warren. Didorong oleh ketidak-setujuannya atas paternalistik missionaris Barat atau sikap ‘supervisors’, ‘director’ dan ‘paymaster’ terhadap orang-orang Asia, Afrika dan Caribbean, maka Henry Venn memformulasikan secara baru goal missi dengan menekankan three-self. Bagi Henry, tujuan missi yang paling istimewah hendaknya dipandang dari hasilnya, yakni melahirkan gereja pribumi di bawah pelayanan dan kepemimpinan pendeta pribumi dan mampu membiayai diri sendiri. Untuk dapat mencapai tujuan tersebut, maka para missionaris hendanya memberi perhatian pada pelatihan terhadap pribumi agar menjadi pendeta. Sedangkan pembinaan jemaat setempat biarlah dilakukan oleh para pendeta pribumi. Merupakan “euthanasia missi” bila tugas pembinaan jemaat diambil-alih oleh para missionaris. Lebih jauh, Henry mengharapkan agar pada akhirnya, para missionaris dan badan-badan missi ditransfer pada gereja setempat. Henry sendiri sangat bersemangat mengimplementasikan gagasan tersebut, misalnya dengan pengangkatan Bishop pribumi di gereja Nigeria, penyerahan kuasa dan administrasi dalam pengelolaan sekolah kepada pribumi, serta penempatan pelayan pribumi pada posisi-posisi penting dalam gereja. Apakah Henry Venn berhasil? Verkuyl mencatat bahwa upaya Henry Venn menerapkan gagasannya tersebut belum begitu berhasil saat itu, karena keterbatasan kaum pribumi menjabarkan ide Henry Venn tersebut.

Tokoh kedua pencetus ide three-self adalah Rufus Anderson (1796-1880). Dia pernah menjadi sekretasi badan missi, yakni: American Board of Commissionars for Foreign Mission (tahun 1826-1866). Bila Henry Venn seorang Anglican, maka Anderson adalah Congregationalist. Mereka memang berbeda dalam hal sistem pemerintahan gereja, namun keduanya memiliki persepsi yang sama dalam memandirikan atau mempribumikan gereja-gereja yang telah tumbuh dari pekerjaan zending Barat.

Anderson yang memberi penekanan pada three-self, mengemukakan bahwa missi adalah lembaga bagi penyebaran Injil, yang pemberitaannya dilakukan oleh orang-orang kristen sendiri (Missions are instituted for the spread of a scriptural, self propagating christianity). Dalam hal itu ada empat unsur penting lainnya yang menunjang pekabaran Injil, yakni: (1) menobatkan orang-orang yang hilang (Converting of lost human beings), (2) mengorganisir mereka dalam gereja (Organizing them into churches) (3) Memampukan gereja-gereja dengan melatih pelayan-pelayan pribumi agar mereka mempunyai kecakapan (Providing the churches with competent native ministers, dan 4) memimpin gereja pada tingkat kemandirian dan memberitakan sendiri (Conducting the church to the stage of independence and (in most cases) of self-propagating.

Gagasan-gagasan Anderson ini, mula-mula disodorkan untuk zending Amerika, agar di dalam menanam dan menumbuhkan gereja pribumi menggunakan prinsip self-governing (Memerintah sendiri), Self-supporting (membiayai sendiri) dan self-propagating (memberitakan sendiri). Gagasan Anderson ini dikembangkan oleh John Nevius pada tahun 1880-an, dalam pengembangan missi Presbyterian di Korea. Nevius menggambarkan metode pempribumian gereja dalam enam prinsip penting, yakni: Pertama, setiap orang tetap tinggal dalam keadaan seperti waktu ia dipanggil Allah. Mereka hidup dan membiayai hidup seperti sebelumnya. Kedua, percaya akan tenaga sukarela untuk tugas perintisan. Ketiga, menempatkan gereja dalam kehidupan rumah tangga. Keempat, supervisi gereja dilakukan oleh evangelis bayaran. Kelima, memperluas pelatihan pengkhotbah, pengajar katekisasi, pemimpin Penelaah Alkitab. Keenam, gereja yang dibangun hendaknya membiayai diri sendiri.

Itulah konsep dari Three-self yang dilahirkan oleh Venn dan Andreson. Konsep tersebut memberi pengertian bahwa menjadi tugas panggilan setiap individu untuk bersekutuan dengan umat Allah, dan kemudian membentuk dan memperlengkapi mereka sebagai jemaat. Dan menurut pencetus konsep Three-self bahwa aspek tersebut di atas sangat diperlukan dalam tugas panggilan Pekabaran Injil. Namun demikian, pada pihak lain konsep three-self ini mempunyai kelemahan. Menurut evaluasi Verkuyl, ada empat kelemahan dari konsep three-self, yakni (1) Terlalu berpusat pada gereja (ecclesiocentric) dari pada Kerajaan Allah. Padahal pusat kesaksian Alkitab adalah Kerajaan Allah. (2) Dalam konsep three-self memberi kesan bahwa ciri gereja yang benar adalah yang mampu membiayai sendiri (self-supporting), padahal gereja dipanggil dendam dan celaan terhadap gereja yang miskin yang tidak dapat membiayai sendiri. (3) Bahwa konsep Three-self dapat membongkar dan memutuskan hubungan antar gereja. (4) Kelahiran konsep Three-self adalah di Barat, dimana yang melakukan Pekabaran Injil bukan lembaga gereja, melainkan missionary societies. Ini berbeda dengan di daerah missi, sehingga dapat menimbulkan perdebatan.

Walaupun konsep three-self dalam perdebatan, namun gagasan tersebut, ternyata mendapat respons dari kalangan missionaris. Konsep Three-self dijadikan sebagai salah satu pedoman dalam memandirikan “gereja muda”, hasil pelayanan para Missionaris di daerah missi. Terlebih-lebih setelah digumuli tentang kegiatan missi dalam beberapa konferensi, seperti: Konferensi Edinburgh tahun 1910, di Yerusalem 1928 dan di Tambaran tahun 1938. Walaupun Zending masih mempertahankan soal superiority barat, namun gagasan three-self dijadikan sebagai prinsip dan pedoman Pekabaran Injil dalam memandirikan gereja-gereja yang tumbuh oleh pekerjaan Missionaris. Formulasi inilah yang mempengaruhi para missionaris/teolog melihat kemandirian gereja pada pelembagaan suatu gereja (berdirinya sinode yang dipimpin oleh pribumi).

Konsep dan Implementasinya: Zaman Zending?

Bila melakukan pengkajian secara umum, dapat disimpul¬kan bahwa pada masa zending terlihat para misionaris berupaya memandirikan gereja di Nias, baik di bidang teologi, maupun bidang daya dan dana. Dalam kurun waktu 75 tahun (1865 – 1940), gereja-gereja di Nias yang lahir dari pekerjaan Zending, telah ditata seoptimal mungkin oleh para misionaris, baik pengajaran, peribadatan, tenaga, sumber dan sistem keuangan, maupun sistem pengorganisasiannya, sehingga melembaga dengan nama Banua Niha Keriso Protestan, disingkat BNKP.

Merupakan hal yang penting dan memberi ciri khas dari gereja BNKP adalah gerakan yang disebut “Fangesa dodo“ (Gerakan Pertobatan Massal). Gerakan ini yang mempercepat penginjilan, yang memberi warna teologi, sistem dan yang menggerakkan daya dan dana dari Ono Niha dalam pengembangan Pekabaran Injil dan pemandirian BNKP. Gerakan ini yang membuat gereja Nias, oleh Walter Lempp menyebutnya dengan “Gereja rakyat”. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pemikiran dan upaya menuju kemandirian BNKP harus dilihat dalam gerakan pertobatan massal yang disebut Fangesa dodo sebua.

Hanya yang menjadi soal pada masa zending adalah isi dari Teologi yang dikembangkan melalui pengajaran dan dengan pendekatan terjemahan. Dalam kancah “Fangesa dodo”, terlihat jiwa dan ciri dari “pietisme” yang juga melatar-belakangi para misionaris yang sebelumnya dididik di sekolah zending di Barmen. Hal itu terungkap dalam menyingkapi problema aktual yang dihadapi oleh masyarakat pada waktu itu, yakni kemiskinan, keterbelakangan dan dijajah oleh pemerintah Hindia Belanda. Bidang ini masih belum banyak disentuh. Hal lain adalah dalam hubungan dengan budaya. Memang misionaris menggunakan unsur budaya, khususnya bahasa, baik dalam komunikasi maupun dalam terjemahan (Alkitab, Buku zinuno, Liturgi, dan buku-buku pengajaran), namun banyak unsur budaya yang dieliminir, apalagi yang berkaitan dengan “agama suku Ono Niha”. Hal itu terungkap dalam “Amakhoita” dan Tata Gereja. Akibatnya terjadi tarik-menarik yang terus menerus dalam hubungan Injil dan Budaya Nias.

Mengenai kemandirian daya. Kita melihat bahwa para misionaris telah berupaya mengembangkan pendidikan di Nias. Bahkan gerejalah yang pertama membuka sekolah di Nias, baik sekolah umum (sekolah zending) maupun pembinaan, kursus para pelayan gereja. Sehingga dalam kurun waktu 75 tahun telah banyak orang Nias yang menjadi pelayan, yang dapat memberitakan sendiri (Self-propagadin). Artinya kebaktian di jemaat-jemaat dapat berjalan dengan baik di bawah pelayanan dan kepemimpinan para Sinenge dan Guru, serta dukungan dari para Satua Niha Keriso dan para Salawa atau Tuhe¬ori. Tenaga pendeta pribumi, pada tahun 1939 telah 20 orang yang aktif melayani. Mereka ditempatkan sebagai pendeta Distrik.

Tenaga pelayan yang telah dipersiapkan itulah merupakan pendukung utama dalam pelayanan di BNKP pada masa zending. Artinya, kelangsungan kegiatan peribadatan, pembinaan atau pengajaran, serta kegiatan pendidikan tidak hanya dikerjakan oleh para misionaris, melainkan didukung oleh warga dan tenaga pelayan pribumi yang ada. Hanya saja, hingga tahun 1939, pelayan pribumi belum menem¬pati kedudukan sebagai Praeses atau pada tingkat sinodal. Artinya mereka belum dipersiapkan untuk kepemimpinan (Self-governing).

Mengenai upaya kemandirian dana (Self-supporting), kita melihat bahwa para misionaris telah berusaha menciptakan keman¬dirian dana. Tidaklah beralasan bila dikatakan bahwa tidak ada usaha misionaris menciptakan kemandirian dana pada masa zending. Justru dengan dukungan besar dari Ono Niha yang menjadi Kristen, maka pelayanan gereja di Nias dapat tercipta. Memang mulanya terlihat praktek “memberi dengan cuma-cuma”, tetapi kemudian justru mereka mengupayakan dukungan dana dari warga jemaat, misalnya: dalam pembangunan gedung gereja, sekolah, pengumpulan persembahan dan sumbangan, aksi u’alui dalifusogu, pengangkatan sinenge guna memperkecil pembiayaan dan menata adminitrasi keuangan dengan sistem sentralisasi di aras ressort.

Hanya yang menjadi persoalan adalah bahwa penggalian dana dari warga jemaat harus diikuti dengan pengembangan ekonomi jemaat. Hal ini belum banyak disentuh oleh misionaris, kecuali dengan pendekatan mentalitas, yakni mengajak orang Nias agar jangan terlalu besar “mas kawin” pada pesta perkawinan, karena itu dapat memiskinkan. Selanjutnya sistem pengelolaan keuangan yang menciptakan ketergantungan. Pada masa zending, segenap uang masuk disetor ke Ressort, baru kemudian Ressortlah yang bertanggung-jawab membayar biaya pelayan dan pelayanan. Hal ini telah menciptakan ketergantungan. Juga pendekatan Pekabaran Injil yang pada awalnya diumpan dengan pemberian-pemberian, dapat menjadi penghalang dalam menggali swadaya.

Dengan mengemukakan simpul-simpul tersebut di atas, maka telah memberi potre kemandirian BNKP pada masa zending, baik di bidang teologi, maupun daya dan dana, dengan segala bentuk, keunggulan dan kelemahannya.

Kemandirian Gereja: Pergumulan Oikumenis

Pada dekade 80-an, muncul kembali kesadaran kuat akan pentingnya pempribumian Injil, sehingga gereja-gereja di Indonesia memunculkan gagasan dengan istilah Kemandirian Gereja di bidang Teologi, Daya dan Dana. Itulah salah satu keputusan Sidang Raya X DGI tahun 1984 di Ambon dengan dihasilkannya Lima Dokumen Keesaan Gereja di Indonesia (LDKG). Dokumen V dari LDKG tersebut adalah “Menuju Kemandirian Theologia, Daya dan Dana”. Dokumen I-IV merupakan pernyataan dan pengakuan, sedangkan dokumen V lebih bersifat gagasan dan pedoman untuk dikembangkan oleh gereja-gereja. Gagasan tersebut berisikan kesadaran akan ketergantungan, dan pokok-pokok pikiran, pokok-pokok program untuk melepaskan diri dari ketergantungan dan menuju kemandirian, baik menyangkut Teologi, daya maupun dana.

Konsep kemandirian itu sendiri telah lama muncul dalam istilah yang berbeda, seperti Penatalayanan, Berdikari, Theologia In Loco, dan sebagainya. Akan tetapi baru mulai terungkap secara sistematis pada Sidang Raya IX DGI 1980 di Tomohon. Sidang Raya IX tersebut memperbahaui tekad bersama gereja-gereja Indonesia, yakni agar gereja-gereja meningkatkan upaya untuk “membaharui, membangun dan mempersatukan gereja dengan kemandirian gereja di bidang Teologi, daya dan dana, demi tugas panggilan bersama di seluruh Indonesia. Pemunculan gagasan kemandirian tersebut adalah dalam rangka mewujudkan keesaan dengan saling menopang atau mendukung, serta sebagai ungkapan kedesawaan. Gereja-gereja di Indonesia menyadari akan keter-gantungannya pada badan zending atau gereja-gereja di luar negeri. Dengan jelas ditegaskan:

Pada permulaan gereja-gereja di Indonesia, yaitu dalam zaman zending, maka ‘pangkalan’ bagi teologi, daya dan dana berada di gereja-gereja luar negeri yang mengutus para missionaris ke Indonesia. Sekarang, ‘pangkalan’ itu harus dikembangkan di Indonesia sendiri secara kontekstual dengan tetap memelihara hubungan saling melayani dengan gereja-gereja di luar negeri sebagai ungkapan dari keuniversalan gereja.

Dengan memahami masalah tersebut di atas (masalah ketergantungan), maka gereja-gereja di Indonesia merasa bertanggung-jawab untuk menuju kemandirian. Pengertian kemandirian gereja menurutdokumen V adalah suatu upaya bersama terus-menerus memperkembangkan semua kemampuan (potensi) dan pemberian Tuhan secara bebas dan bertanggung-jawab bagi persekutuan, pelayanan dan kesaksian. Melalui proses kebersamaan itu gereja menuju kedewasaan penuh dan tingkapertumbuhan sesuai dengan kepenuhan Kristus (Efesus 4:23). Di sisi lain dinyatakan bahwa gereja-gereja di Indonesia harus/mutlak mandiri mengingabahwa gereja-gereja berada di tengah-tengah dan adalah bagian integral dari bangsa Indonesia yang tengah mempersiapkan diri menuju tinggal landas, yang berarti menyelenggarakan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, serta melaksanakan pembangunan Nasional sebagai pengamalan Pancasila.

Untuk mencapai cita-cita kemandirian, maka dalam dokumen V telah disusun kerangka dasar dalam menyusun program yang menyang kubeberapa faktor, yaitu :

  1. Pola-pola pelayanan, kepemimpinan, keteladanan dalam pembinaan kemandirian.
  2. Faktor-faktor sosial budaya yang mendorong maupun yang menghambat pertumbuhan kemandirian.
  3. Bentuk-bentuk persembahan maupun yang menghambat pertumbuhan kemandirian.
  4. Pemanfaatan bantuan luar negeri, baik tenaga, dana maupun pandangan teologi.
  5. Pendayagunaan milik-milik gereja secara tepat, agar dapat mendukung kemandirian.
  6. Dampak modernisasi, ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dengan memperhatikan faktor-faktor tersebut di atas, sambil memperhatikan kondisi yang dihadapi dan menghitung potensi yang ada termasuk soal struktur, disusun program menyangkukemandiri an Teologi, daya dan dana. Program menuju kemandirian di bidang teologi menurut dokumen lima LDKG menyangkupenyediaan bahan-bahan dan bimbingan pembacaan Alkitab serta meningkatkan berteologi dengan kemampuan merumuskan jawaban atas persoalan-persoalan konkri dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara dan bergereja. Dalam hal ini penting melibatkan warga jemaa dari semua lapisan. Program menuju kemandirian daya, menyangkupeningkatan kualitas, mutu para pelayan dan warga jemaat, demi menjalankan tugas kesaksian dan pelayanan gereja dalam konteksnya. Dalam rangka peningkatan kualitas (dewasa dalam iman, mental, pengetahuan dan ketrampilan), maka pendidikan merupakan hal yang penting. Sedangkan program menuju kemandirian dana menyangku penalayanan dan pengelolaan keuangan/harta benda, peningkatan kesadaran memberi (persembahan), dan peningkatan pendapatan masyaraka dengan program-program di bidang perkoperasian, pertanian, kewiraswastaan dan lain-lain.

Kalau kita berbicara tentang dokumen V dari LDKG (Menuju Kemandirian Teologi, daya dan dana), maka pada satu pihak dapat dikatakan bahwa gereja-gereja di Indonesia telah menghasilkan dokumen yang berharga yang lahir dari pergumulan yang dihadapi kontemporer serta dalam pergumulan bersama dibawah tekad membangun, membaharuai dan mempersatukan. Akan tetapi pada pihak lain, ada yang melihabahwa dokumen-dokumen tersebut belum terumus dengan baik dan serta belum mengakar dalam konteksnya. John Titaley dengan gigih menjelaskan bahwa LDKG yang telah dihasil kan oleh gereja-gereja di Indonesia telah salah metodologis dalam berteologi, yaitu melalaikan konteksnya, realitas nasional bangsa Indonesia. John Titaley meliha gereja-gereja hanya memberi perhatian pada realitas primodial, seperti denominasi, suku, daerah, golongan dan sebagainya, dan itulah suatu metodologis berteologi yang kurang tepat. Karenanya Titaley mengusulkan perlunya berteologi kontekstual dalam merumuskan LDKG dengan memperhatikan realitas Nasional, yakni bangsa Indonesia yang telah merdeka 17 Agustus 1945 dan berdasarkan Pancasila. Dengan demikian Titaley mengusulkan pembentukan Gereja Kristen Yang Esa di Indonesia (GKEI), serta melengkapi GKEI tersebutdengan PBIK, Tata Dasar dan PTPB, dan inilah upaya berteologi dalam konteks Indonesia. Pada pihak lain, gereja-gereja justru masih mempertahankan LDKG ini, karena melihabahwa dengan lima dokumen tersebut merupakan kemajuan dalam gerakan oikumenis di Indonesia. Dalam Sidang Raya 12, tahun 1994 di Jayapura, justru LDKG tersebutlah yang digumuli dan terus dikembangkan, sesuai dengan pergumulan yang dihadapi.

Itulah sepintas latar-belakang kelahiran, konsep dasar menyusun program serta pokok-pokok program menuju kemandirian teologi, daya dan dana dari dokumen V Lima Dokumen Keesaan Gereja di Indonesia.

Persoalan lanjutan adalah sejauh mana gereja-gereja di Indonesia menggumuli permasalahan yang dialaminya sehingga tetap berada dalam ketergantungan, serta penyusunan langkah-langkah yang harus ditempuh dalam menuju kemandirian gereja, sesuai konteks dimana gereja itu berada. Kapan?

 

Ya’ahowu

 

Sumber: Sinode BNKP

Sejarah BNKP Part II

Ono Niha

Dua tahun setelah Denninger berada di Nias, berdasarkan apa yang ia lihat dan dengar, maka sejak tahun 1867 ia mengirimkan surat kepada Direktur RMG di Barmen, dan menjelaskan tentang Nias. Ia melaporkan apa yang telah ia lihat, ketahui dan dengar dari para Salawa, Balugu, dan tokoh-tokoh Adat di beberapa desa yang telah ia kunjungi.

 

Istilah

Denninger menuturkan bahwa leluhur Nias adalah “tuada Hia” atau niha yang dalam dialek “sumbawa” adalah nikha. Istilah manusia ditemukan dengan ungkapan manusy yang rumpun katanya nusy dan dapat dibandingkan dengan nicha. Mungkin ada hubungan kata-kata ini, ungkap Denninger.

Orang Nias menyebut dirinya sebagai “Ono Niha”, sehingga mereka sulit menerjemahkan Tuhan Yesus sebagai anak manusia yang dalam bahasa Nias “Ono Niha”. Sebab bila demikian diterjemahkan, maka itu berarti bahwa Yesus adalah orang Nias, Ono Niha.

Sebenarnya kata Nias tidak mempunyai arti. Itu mungkin diciptakan oleh melayu atau orang Eropa. Namun demikian, karena sudah umum dipakai, maka istilah ini tetap dapat dipertahankan, ungkapnya.

 

Asal Usul

Sebutan untuk Tanõ Niha diambil-alih dari “tuada Hia” atau “Tanõ Hia”. Sehingga Istilah Ono Niha, bisa mungkin menyatakan “Ono Hia” di “Tanõ Hia”, ungkap Denninger.

Darimanakah “ono niha” (Ono Hia di Tanõ Hia) tersebut ?

Ada yang pernah beranggapan bahwa bila berdasarkan wilayah, maka mungkin itu berasal dari Batak. Karena pada tahun ± 1100, pernah orang Aceh melancarkan serangan, termasuk ke daerah Batak. Sehingga mereka melarikan diri, dan bisa jadi ada yang lari ke Nias. Tapi Denninger berkomentar: “tetapi di antara orang Batak dan orang Nias kelihatan lain sekali, sehingga sulit melihat hubungannya.” Lebih lanjut Denninger mencatat bahwa waktu itu orang-orang Melayu sering menghina orang-orang Nias dengan mengatakan bahwa Ono Niha berasal dari Batak. Mereka mengarang cerita bahwa ada wanita hamil dari Batak, lalu diusir dengan dinaikkan dalam perahu dan itulah yang tiba di Nias. Dengan cerita ini, orang Melayu hendak menyatakan bahwa Ono Niha berasal dari Sumatera. Bagi Ono Niha, hal tersebut dianggap sebagai penghinaan besar. Barangsiapa yang menyatakan penghinaan ini, harus dihukum mati.

Asumsi lain menyatakan bahwa mungkin leluhur Nias berasal dari Birman. Sebab sehubungan dengan serangan yang dilancarkan oleh orang Aceh, diduga bahwa serangan tersebut sampai ke Birma. Sehingga orang Birma ada yang lari dan kemungkinan ada yang datang ke Pulau Nias. Dalam beberapa hal, terlihat memang kesamaan dan hubungan antara orang Nias dengan orang Birma. Sekaitan dengan ini ada keterangan pendukung berdasarkan penuturan para Salawa dan Bagulu kepada Denninger, yang memperkirakan bahwa berdasarkan silsilah, generasi Ono Niha ini sudah yang ke-10 setelah tuada Hia. Jadi sekitar 700 tahun yang lalu Hia datang. Sebelum itu mereka tinggal di negeri yang lain.

Denninger juga mencatat Mitos Nias yang menyatakan bahwa Tuada Hia dan Isterinya turun dari langit. Setelah melahirkan 1 anak laki-laki dan 1 orang anak perempuan, lalu mereka kembali ke langit, tanpa meninggal di dunia ini. Menurut mitos, baru generasi yang ke-10 yang tinggal di dunia ini. Generasi tersebut pertama-tama tinggal di Gomo di atas Batu besar, dibawah pohon tinggi, yang berasal dari langit. Batu/pohon tersebut masih ada sampai sekarang, tetapi orang banyak tidak dapat melihat, kecuali Ere yang dapat melihatnya.

Ada mitos lain tentang pencipta bumi, yakni Lowalangi (God). Ia punya 4 putra yang turun ke bumi. Ini leluhur-leluruh. Anak Sulung adalah Luo Wemona. Seharusnya ia turun, tetapi tidak mau. Ia menikah dengan “si alawe Ina zareta”. Sebelum penciptaan mereka telah ditentukan sebagai orang tertinggi. Ia melahirkan anak bernama Tuada Hia. Inilah yang kemudian mau turun ke bumi bersama dengan isterinya.

 

Catatan tentang Geografi

Dalam perjalanan Denninger ke bagian Selatan, ia tiba di pelabuhan Balaekha dan Sumbawa. Di Balaekha, para Balugu menerima Orang Inggris dan tunduk kepada Inggris pada tahun 1820. Denninger mencatat bahwa Balaekha, selain untuk pelabuhan juga cocok untuk perdagangan.

Sumbawa berada di arah utara Balaekha. Sejak dahulu daerah tersebut merupakan pasar budak yang utama untuk seluruh pantai barat Sumatera. Dari sini kebanyakan orang Nias dibawa ke Padang dan karena itu juga ada dialek Sumbawa. Dialek inilah yang banyak mempengaruhi Denninger ketika belajar bahasa Nias di Padang. Daerah Sumbawa ini disegani, sehingga para pedagang Aceh, Melayu dan Cina sangat hati-hati bila berdagang ke sana.

Beberapa jarak ke bagian utara Sumbawa ada pelabuhan “Gunung Lembu”. Ini baik untuk perdagangan beras. Di sini ada banyak orang melayu. Orang Nias menjual beras, dan menukarkannya dengan emas (mutiara), pakaian, peralatan pertanian, tembakau yang dikenal dengan nama “Bago Jawa” (sebutan yang terkenal di Nias adalah bago jao), dan sebagainya.

Gunung Lembu tidak jauh tempatnya dari Gunung Umbaru, dan sedikit ke Utara kita bertemu dengan Gunung Gido Gedang, atau Gido Kete. Kemudian di bagian utaranya lagi kita temukan pelabuhan Larugo. Ini dipakai juga oleh Inggris hingga tahun 1824.

Gunungsitoli adalah pusat sipil dan militer Belanda, serta pengadilan. Di lembaga pengadilan ini ada beberapa Salawa Nias dan melayu di bawah pimpinan Kolonial.

Di Gunungsitoli sudah ada 3 Mesjid dan satu buah sekolah Islam. Ada penjara dan ada juga Dermaga untuk kapal besar. Gunungsitoli terdiri dari 5 kampung (4 kampung melayu dan 1 kampung Nias yang disebut dengan Onozitoli). Dari kata Onozitoli inilah istilah Gunungsitoli yang diganti oleh orang Eropah, karena sulit bagi mereka menyebut Onozitoli.

Di sebelah utara Pantai timur, orang Aceh aktif mencuri, membeli orang Nias sebagai Budak. Selain itu, mereka juga menekan para salawa di sekitar pantai tersebut untuk memberi upeti. Pelabuhan mereka adalah Gelora, Baluku, Damate, Fofola, Unge. Semua daerah ini mayoritas dihuni oleh “Melayu”, demikian dicatat oleh Denninger.

Selain itu, di Muzõi dan Lafau merupakan pasar budak terbesar bagi orang Aceh. Harga seorang budak pada waktu itu adalah F 100 perak (mata uang belanda).

Selanjutnya di bagian barat ada tempat bernama Afulu, lalu Hinako. Di Hinako ini adalah Maras (Maru – Bugis). Lalu ada Lagundri di bagian selatan belahan barat. Pernah di sini dijadikan Pos Jaga (benteng) oleh Belanda, tetapi pada tahun 1863 dihancurkan oleh orang Nias.

Pada akhirnya, Denninger menyatakan bahwa kemungkinan Pulau Nias terbentuk karena adanya Gunung berapi dari bawah laut, dan mengangkat karena Gempa. Hal itu terbukti dengan adanya pasir.

 

Dawa

Salah satu suku yang cukup lama berinteraksi dengan Ono Niha adalah suku Aceh atau orang Aceh, terutama dalam soal jual-beli budak. Denninger menyatakan bahwa Ono Niha kurang senang dengan orang-orang Sumatera, terutama orang-orang Aceh. Mereka sebut Dawa, yang mungkin berasal dari kata “dakwa”. Lebih dari itu, dengan ungkapan dawa, mereka menganggap orang-orang Aceh sebagai Unmenschen (Nir-manusia). Ono Niha sendiri menganggap diri sebagai “Ono Niha” (manusia). Hal ini dilatar-belakangi oleh praktek orang-orang Aceh sering memperlakukan “Ono niha” secara tidak manusiawi (hulo zi tenga niha). Tetapi anehnya, sebutan untuk orang-orang Cina justru “kehai” dan bukan Dawa. Ungkapan Dawa tidak hendak menyatakan bahwa hanya Ono Niha yang benar-benar manusia, melainkan pada sikap dan perbuatan orang-orang Aceh “yang dianggap tidak manusiawi” terhadap masyarakat setempat waktu itu. Selain itu, mereka menganggap dirinya Ono Niha, dalam arti Ono Hia, sedang orang-orang sumatera, termasuk Aceh, tidak tergolong dalam kelompok Ono Hia. Lebih lanjut Denninger mencatat bahwa sebagai tanda bahwa mereka Ono Niha (Ono Hia), maka mereka menerima Roh ayah yang meninggal.

 

Der cultus der Niasser

Apa tujuan kultus Nias? Untuk memulihkan hubungan asli mereka dengan dunia atas, melalui penyembahan. Penyembahan ini dilaksanakan melalui persembahan dan seruan doa. Maksudnya untuk mendapat kuasa dan kebijaksanaan bagi mereka untuk kehidupan di dunia ini.

Siapa yang “di atas” itu? Pertama-tama leluhur-leluhur purba yang dianggap/dijadikan kekal. Mereka berasal dari Lowalangi (God) dan anak sulungnya. Leluhur-leluhur itu (Lowalangi) tetap bersama-sama dengan mereka. Mereka (leluhur) menjaminkan kesejahteraan di dunia akhirat.

Ada pendapat menyatakan bahwa orang Nias tidak kenal hal-hal rohani dan hanya menyembah angin. Pendapat ini ditolak oleh Denninger , sebab menurutnya justru orang-orang Nias sangat memahami hal rohani dan hal jasmani. Kalau orang Nias bicara tentang yang rohani, maka mereka maksudkan kehidupan real di tingkat adikodrati dan itu tidak sama dengan “angin” sebab angina itu lebih di dunia ini. Semua ini sangat nampak dalam kultus, sebab kultus menyangkut dunia Roh-roh, yang memiliki kehidupan yang meluap, yang diberikan kepada anak-anak mereka di bumi kalau diminta.

Selain itu, orang Nias juga mengenal adanya angkatan Roh-roh jahat yang selalu mengancam kehidupan manusia. Namun, orang Nias memahami bahwa manusia dapat berlindung pada Roh-roh lain yang lebih berkuasa.

Dalam kegiatan kultus keagamaan orang Nias, mereka belum punya bait, hanya ada tempat kecil dekat kampong dengan nama “osali”. Ini ditahbiskan sebagai tempat Roh-roh dan Adu. Dipahami bahwa setiap Adu merupakan tempat kehadiran Roh. Setiap orang bisa berhubungan dengan Roh-roh, baik laki-laki maupun perempuan. Namun mereka memiliki Ere (‘imam”), baik ere laki-laki maupun ere perempuan. Mereka inilah yang bertugas sebagai pemimpin berbagai upacara dan berfungsi sebagai penengah.

Ere memiliki hubungan yang sangat istimewah dan dipengaruhi oleh Adu Gere. Jiwa si Ere adalah Bihara yang memberikan wahyu kepadanya. Para Ere juga berfungsi sebagai tabib. Dalam hal ini Ere laki-laki melayani kaum laki-laki dan Ere perempuan melayani kaum perempuan. Hanya ere yang tahu pengobatan khusus.

Dalam pemahaman ono niha, semua penyakit berasal dari Roh-roh jahat yang senantiasa mau menyerang manusia, untuk merebut jiwanya. Untuk itu, dalam pengobatan, Ere harus tahu Roh jahat mana yang telah menyerang si sakit. Bagaimana ia tahu hal ini ? Yaitu melalui Wahyu. Ere dapat melakukan diagnosa untuk menentukan jenis Roh Jahat yang menyerang manusia. Untuk penyembuhan, si Ere melalui mantra-mantra memanggil Roh yang baik, untuk penyembuhan si sakit. Selain mengucapkan mantra, si Ere juga memotong ayam sebagai persembahan kepada Roh yang baik tersebut. Ayam ini merupakan persembahan penebusan. Pada saat persembahan itulah jiwa si sakit dibebaskan dari kekuatan Roh jahat.

Mengenai persembahan ayam, orang Nias memahami bahwa yang terbaik adalah bila tidak potong ayam, melainkan dicekik. Ayam tersebut tidak dimakan, melainkan dibuang. Akan tetapi ayam yang dipotong, biasanya dimasak dan dimakan. Pada umumnya, ayam yang dipersembahkan adalah harus milik si sakit. Ayam milik si sakit itulah yang seolah-olah menggantikan si sakit.

Kalau Lowalangi atau kuasa adikodrati menerima persembahan, maka ada “tanda” yang datangnya dari atas. Hanya saja yang dapat melihat tanda tersebut hanyalah “Ere”, yang bentuknya seperti “löfölöfö zibongi”. Bila tanda itu dating, maka Ere menangkapnya dengan kain. Lalu ia meletakkan kain itu di dahi si sakit. Pada saat itu, si sakit kembali menjadi kuat dan terbebas dari pengaruh roh jahat yang telah menyerangnya.

ADU. Adu yang dibuat melambangkan Roh-roh yang baik. Biasanya Adu ada dalam jenis laki-laki dan ada dalam bentuk perempuan. Bila dipakai dalam upacara, maka Adu biasanya dihias.

Adu sangat penting dalam kehidupan orang Nias. Bila tidak ada Adu, maka dirasakan kehidupan gersang dan menakutkan. Itulah sebabnya, bila Ono Niha bekerja kepada orang Eropa, Cina atau Melayu dan mereka tidak diizinkan membawa Adu, maka di sini Ere datang mengunjungi mereka dan membuat Adu bagi mereka. Tidak dipentingkan indah atau tidak, yang penting ada “Adu” yang diyakini sebagai lambang kehadiran Roh-roh yang baik.

Mengenai Adu ini, hanya memiliki fungsi bila ada upacara. Ia merupakan lambang kehadiran Roh. Adu adalah lambang “Citra Asli” di dunia Adikodrati. Yang disembah bukanlah Adunya, melainkan Roh-Roh yang baik tersebut. Di luar upacara Adu tidak memiliki keistimewaan.

Lebih lanjut Denninger menuturkan cara Ere melakukan penyembuhan:

  • Ere memanggil Roh-roh yang baik, yaitu Roh-roh dari Banua atau Roh-roh dari garis keturunan (leluhur) si sakit. Dia memanggil mereka, sebab Ere punya hubungan dengan mereka. Lalu, ia memberkati si sakit. Tangan kanan Ere diletakkan di atas kepala si sakit, sedangkan tangan kirinya memegang tangan kanan si sakit. Ere mengucapkan mantra-mantra, bahkan kadang-kadang berteriak memanggil Roh-roh yang baik. Hal ini sangat mempengaruhi si sakit, sehingga ia dapat kerasukan. Suatu krisis terjadi. Namun, si sakit punya keyakinan yang mendalam. Mereka percaya pada Ere dapat membebaskan mereka dari pengaruh Roh-roh jahat tersebut. Sehingga orang sakit terus memohon berkat dari Ere.
  • Ere juga memberi berkat. Sering kali mengatakan bahwa Adu telah menolongnya. Si sakit pasti sembuh. Akan sejahtera, akan dapat penghormatan, akan menikmati masakan yang lezat, akan punya banyak babi dan Emas, dll.
  • Demikian melekatnya hati orang Nias pada Ere, bila ada yang sakit, dan menerima obat-obatan dari dokter Eropa, namun si sakit tersebut malah memuji Ere, seakan itu yang menyembuhkan mereka.
  • Cara lain adalah: Ere mempersembahkan “jiwa babi”. Ini terkait dengan pemeliharaan jiwa. Cara ini dilakukan, apabila cara di atas tidak mampan. Roh jahat masih menyerang. Atau Afokha, iblis utama yang tinggal di pohon-pohon atau di udara telah turut menghalangi kegiatan Ere. Biasanya melalui Bihara, Ere dapat Wahyu, tetapi Afokha dapat menggelapkan wahyu tersebut, atau wahyu itu direkayasa oleh Afokha, sehingga Ere tidak mengenal jenis Roh jahat yang menjadi sumber penyakit tersebut.
  • Untuk menghadapi hal tersebut di atas, maka dipahami ada Roh yang Baik yang duduk di puncak rumah, yang disebut ADU BA MBUMBU. Adu ini yang bisa melihat kejahatan Afokha. Sehingga Adu ini dapat diminta nasehat. Caranya ialah, Ere naik ke atas atap, membuat Adu dan membawa babi yang masih hidup dan di atap tersebut babi tadi disembelih. Setelah babi tersebut jantungnya ditusuk dengan pisau, maka dibiarkan babi itu meluncur ke bawah. Pada waktu meluncurnya babi tersebut dari atas ke bawah, maka lewat “tuwu-tuwu” Roh jahat tersebut keluar mau menangkap “jiwa babi” yang telah dipotong tadi. Setelah babi tersebut jatuh ke tanah, maka adu dibawa dekat babi tersebut, agar Roh Jahat tidak mendekat lagi.
  • Cara lain lagi adalah: Perang di kodrat Roh-roh. Ini dipakai bila gerombolan para roh jahat sedang menyerang, yang mengakibatkan Kolera, cacar, dan menyakit wabah lainnya. Untuk ini harus dilawan dengan perang. Orang-orang dewasa harus ikut perang. Apa maksudnya perang ? Dipandu oleh Ere yang telah menerima wahyu dari Roh yang baik, maka semua wanita diusingkan ke suatu tempat. Pintu dan jendela rumah harus terbuka. Lalu semua laki-laki dewasa tadi berteriak sambil memukul dengan ritme apa saja yang dapat dipukul. Ataupun dilaksanakan hiwo atau maena, atau tari-tarian yang dimulai dari belakang kampung menuju perkampungan. Ini dianggap mengancam Roh-roh jahat, sehingga keluar dari si sakit, dan menyebabkan si sakit sembuh. Sebenarnya, orang Nias memahami bahwa yang mengalahkan Roh-roh jahat bukanlah karena perang tersebut, melainkan pada Roh Baik yang telah bekerja mengusir roh jahat dalam kehidupan manusia.

Ya’ahowu

 

Sumber: Sinode BNKP

Sejarah BNKP Part I

Ludwich Ernst Denninger

Denninger adalah sebuah nama yang sangat familiar dengan Ono Niha, secara khusus di kalangan umat Kristiani. Kedatangannya di Nias tanggal 27 September selalu dirayakan dengan meriah di kalangan gereja-gereja Protestan di Nias. Bahkan bulan September disebut dengan nama “Bulan Mission”, sebab Ludwich Ernst Denninger adalah Rasul pertama yang datang membawa Berita Injil kepada Ono Niha pada bulan tersebut.

Walaupun nama Denninger sangat terkenal di kalangan Ono Niha, namun masih banyak yang belum mengenal gambaran umum tentang diri dan pelayanannya. Tulisan singkat ini akan memberi informasi umum tentang Denninger.

Pembersih Cerobong Asap menjadi Missionaris

Nama lengkapnya adalah Ludwich Ernst Denninger. Ia lahir pada tanggal 4 Desember 1815 di kampung halamannya di Berlin – Jerman. Ia memiliki tubuh yang tidak begitu tinggi, tetapi kuat dan lincah. Setelah ia menamatkan sekolah yang kini setara dengan Senior high school, ia memasuki ketrampilan teknis, yakni “teknik pembersihan Cerobong Asap”. Sehingga dengan bekal teknik yang dimiliki, pada masa mudanya, ia mencoba mandiri dengan pekerjaan yang sangat dibutuhkan di Eropa, yakni membersihkan Cerobong Asap. Ini sebuah pekerjaan sulit, apalagi kalau rumah-rumah yang tinggi versi rumah bangsawan, dan sulitnya lagi bila musim dingin tiba.

Ternyata masa mudanya tidaklah dimanfaatkan dalam kesia-siaan. Ia tertarik pada kegiatan gerejawi, terlebih-lebih karena waktu itu di daerahnya terjadi semacam “kebangunan rohani” oleh gerakan Pietisme. Hatinya terus bergolak, karena merasa terpanggil untuk pergi kepada bangsa-bangsa di luar Jerman, khususnya suku bangsa yang belum mendengar berita tentang Yesus. Setelah mempertimbangkan masak-masak, akhirnya ia mengambil keputusan meninggalkan pekerjaan di bidang “teknik pembersih cerobong asap” dan menyerahkan diri menjadi “pemberita Injil”.

Sebelum diutus menjadi missionaris, Denninger mengikuti pendidikan Missionaris di Seminari Barmen di Wuppertal, Jerman. Umumnya yang diterima di seminari ini adalah yang memiliki kualifikasi intelektual dan mental-spritual. Seminari ini sangat ketat dengan kedisplinan dan ketertiban dan mendidik zendeling selama 3 tahun. Selain dibelaki pengetahuan Teologi dan ketrampilan dalam penginjilan, juga mereka dilengkapi dengan berbagai ketrampilan teknis, teristimewah menjadi guru di sekolah rakyat atau sekolah Zending.

Missionaris di Borneo

Setelah menamatkan pendidikan di Seminari Barmen, maka pada tahun 1847 di suatu kebaktian pengutusan yang bertempat gereja besar yang ada di Barmen (sampai sekarang gereja itu masih ada), ia dilantik dan diutus menjadi missionaris di Borneo (Kalimantan). Pada waktu itu ia berumur 30 tahun. Ia sungguh bersemangat melaksanakan tugas tersebut. Ia pergi dan bergabung dengan missionaris lainnya di Kalimantan. Ia tak peduli harus melintasi sungai yang panjang di daerah hilir sekitar sungai-sungai murung, Kapuas, Kahayan dan Barito. Pada waktu itu Gohong merupakan Pusat Pekabaran Injil dari RMG. Walaupun banyak tantangan, terlebih karena suku Dayak yang kurang tertarik dengan Injil dan benci terhadap “orang asing”, namun para missionaris terus melakukan pelayanan Pekabaran Injil.

Setelah 12 tahun Denninger melayani di Borneo, perkembangan misi sudah mulai menunjukkan kemajuan. Akan tetapi pada tahun 1859 terjadi suatu peristiwa berdarah dengan adanya “Pemberontakan Hidayat”, yang menyerang seluruh orang asing, tanpa kecuali, baik kolonial maupun missionaris. Denninger dan keluarganya bersama dengan missionaris lainnya harus melarikan diri karena dikejar dan nyaris dibunuh oleh penduduk Dayak. Di antara mereka ada 4 orang Mision¬aris, 3 orang isteri misionaris dan 2 orang anak – sempat dibunuh pada peristiwa pemberontakan penduduk Dayak tersebut. Ini merupakan peristiwa berdarah, bencana yang melanda badan misi RMG.

Antara Jawa atau Batak

Karena peristiwa “perang Hidayat” tersebut, maka pada tahun 1860 Denninger bertolak meninggalkan Banjarmasin menuju Semarang, Jawa Tengah. Ia mencoba memikirkan ladang pelayanan baru di Jawa Tengah, membawa Injil di tengah-tengah orang Jawa. Akan tetapi, belum membuahkan hasil, Denninger menerima perintah dari pusat RMG di Wuppetal bahwa ia harus pergi segera membantu pelayanan Pekabaran Injil di Tanah Batak yang dimulai oleh Nommensen (Tiba di Tanah Batak tanggal 7 Oktober 1861). Denninger direncanakan melayani di daerah Barus. Sehingga pada tanggal 20 Oktober 1861 ia bertolak dari Batavia menuju Padang dan tiba di Padang pada tanggal 21 November 1861.

Sayangnya ia tidak bisa melanjutkan perjalanan ke Tanah Batak, dan harus tinggal di Padang untuk beberapa lama, karena istrinya “sakit keras, terkena racun”. Mereka mengalami kesulitan yang cukup berat, selain isteri sakit, dua orang anaknya jauh dari mereka, yakni tinggal di Wuppertal (Carolinna Denninger dan Elias Denninger), dan mengalami kesulitan karena keterbatasan biaya. Namun, Denninger tetap tabah. Ia hanya berserah diri dalam tangan pengasihan Tuhan. Ia menghadapi semuanya dengan tenang. Dalam kondisi seperti itu, ia menyewah rumah sangat sederhana (berdindingkan Bambu dan atap rumbia) milik orang Cina di daerah Kampung Cina. Inilah rumah yang sewanya tidak begitu besar. Di sanalah mereka tinggal. Di sanalah isterinya berbaring di lantai. Di sanalah Denninger merawat isterinya. Ketika I.L. Nommensen datang ke Padang tahun 1862, ia mengunjungi keluarga Denninger dan melihat penderitaan mereka yang cukup berat, sampai berkata: Sangat berat salib yang harus ia pikul. Ini ungkapan keprihatinan dan solidaritas dari sesama hamba Tuhan, atas derita yang dialami, terlebih karena penyakit isteri Denninger, tetapi juga karena keterbatasan keuangan, karena belum jelasnya daerah misi yang hendak dilakukan.

Tetapi, rupanya ada kehendak Allah di balik semua peristiwa itu. Peristiwa di Borneo dan penderitaan di Padang – telah membawa “berkat” bagi Ono Niha. Semua yang dialami oleh Denninger merupakan tanda dari Allah (Fingerzeige des Hern), tanda keselamatan bagi orang Nias. Sebab setelah beberapa tahun di Padang, ia melihat dengan jelas kondisi dan penduduk daerah Padang, dan melihat golongan yang berbeda dari umumnya, yakni Ono Niha yang ada di Padang. Pada waktu itu, Denninger memperkirakan jumlah Ono niha di Padang sekitar 3000 orang. Suatu jumlah yang cukup besar, karena jauh sebelumnya telah terjadi urbanisasi serta adanya praktek “jual-beli tenaga kerja” dari Nias. Sejarah mencatat bahwa Orang Aceh dan Melayulah yang datang ke Nias untuk berdagang tenaga kerja tersebut dengan “kaum bangsawan” Nias.

Denninger tertarik dan melihat hal tersebut sebagai ladang penginjilan yang disediakan oleh Allah. Sehingga, sambil merawat isterinya, Denninger melakukan percakapan dan belajar bahasa Nias kepada Ono Niha yang ada Padang. Ia menganggap pelayanan tersebut sebagai permulaan Pekabaran Injil di Nias. Dari pelayanan yang dilaksanakannya di Padang, dilaporkan bahwa Denninger membaptis 1 orang melayu pada akhir tahun 1862 bernama Karl Bidin.& Setahun kemudian, yakni pada tahun 1863, ia berhasil membaptis orang Nias pertama, yakni seorang perempuan bernama Ara (tidak ada data tentang marganya) yang nama baptisnya Gertruida Christina.*

Setelah dua tahun berada di Padang untuk merawat isterinya, sambil melakukan pelayanan Pekabaran Injil, Denninger merasa bahwa sangat lebih baik apabila pelayanan missi dilaksanakan langsung kepada Ono Niha di Nias. Sehingga ia mengarahkan perhatian untuk ke Nias. Dalam upaya ini, ia mengajukan permohonan kepada RMG di Barmen dan juga kepada Gubernur Jenderal di Batavia. Upaya itu semakin memberi titik terang karena pemerintah Belanda di Den Haag telah meminta kepada RMG untuk mengutus missionaris ke Pulau Nias. Semakin melegakan hatinya, bahwa pada tahun 1864, anak-anaknya dapat berkumpul dengan mereka di Padang. Putrinya Carolinna Denninger yang setelah selesai Sidi di Barmen, ia datang ke Padang untuk membantu ibunya yang sakit, demikian juga Elias Denninger ikut bersama orangtuanya. Denninger ingin cepat-cepat ke Nias, tetapi masalahnya pimpinan pusat RMG di Jerman belum memberi persetujuan, demikian juga dari pemerintah Kolonial.

Denninger di Pulau Nias

Denninger didukung oleh pemerintah Hindia Belanda karena berpendapat bahwa penginjilan akan memajukan penegakkan “pax Neerlandica”. Sehingga, walau belum mendapat surat persetujuan dari pimpinan RMG di Jerman, namun karena motivasi yang sangat kuat dan bermodalkan izin dari Gubernur Jenderal dari Batavia tertanggal 13 Augustus 1865, maka Denninger dan keluarganya bertolak dari Padang menuju Nias. Ia tiba di Nias dengan kapal kayu pada tanggal 27 September 1865. Inilah yang dijadikan sebagai awal kedatangan Berita Injil di Pulau Nias. Gereja-gereja di Nias, merayakan kedatangan berita Injil ini setiap tahun, dengan nama “Yubileum” (dari kata Yovel (Ibrani), Jubilee (Inggris), Yubilate (Latin) yang mengandung arti sorak-sorai karena keselamatan, pembebasan, kemerdekaan yang datang dari pada Tuhan).

Memang, pada tahun 1822/1823 pernah datang utusan Mission Etrangers (badan Misi Katolik Roma), yakni Pere Wallon dan Pere Barart, tetapi baru tiga hari setelah berada di Lasara, Gunungsitoli salah seorang meninggal dunia dan tiga bulan kemudian yang seorang lagi meninggal dunia, sehingga belum sempat ada buah pelayanan mereka, itulah sebabnya tanggal 27 September dijadikan hari kedatangan berita Injil di Nias, sebab zending dari RMG tersebut yang dapat berakar dan bertumbuh serta menghasilkan buah. Pada mulanya, ketika Denninger dan keluarganya tiba di Gunungsitoli, ia tinggal di rumah “sekretaris pemerintah” (Gouvermentsscretars) atau yang sering dikenal dengan “kumandru Balanda”. Ia tidak lama tinggal di sana, sebab ia membeli sebuah rumah seharga 600 perak (mata uang Belanda) di Gunungsitoli. Di sanalah Denninger dan keluarganya tinggal.

Pekerjaan Pekabaran Injil di Nias awalnya sangatlah sukar. Memang pada tahun 1825 Nias dikusai oleh Belanda, namun hanya satu tahun bekerja “Posthouder”, kemudian ditinggal begitu saja. Pada tahun 1864 s/d 1902 pemerintahan hanya di sekitar Gunungsitoli, yang disebut dengan “Rapatgebied” (16 Km ke Utara, 16 Km ke Selatan dan 16 Km ke barat). Baru mulai tahun 1902 pemerintah Kolonial mengefektifkan pemerintahan dan penguasaan Nias. Sekian lama, Nias terisolir dan terbelakang. Aceh dan Bugis telah berdatangan untuk berdagang, termasuk memperdagangkan “tenaga kerja”, yakni membeli para budak dan menjualnya di dataran Sumatera. Itulah sebabnya banyak orang Nias berada di Padang, selain yang datang merantau.

Pada waktu Denninger tiba, masyarakat masih tertinggal. Mereka belum mengenal pakaian dan mereka hanya mengenakan yang disebut “Saombo”. Makanan pokok masyarakat adalah ubi dan sagu. Ada banyak rakyat yang meninggal dunia akibat penyakit. Pada waktu itu, merajalela penyakit Malaria, dan penyakit yang disebut Talu soyo, Fogikhi/sitesafo, eha simiwo, nira’u mbekhu, dan sebagainya. Pada waktu itu peranan Ere (dukun) sangat besar untuk penyembuhan penyakit dengan mantra-mantra serta obat-obatan tradisionil. Selain itu, belum ada kesatuan masyarakat Nias secara menyeluruh, bahkan sering terjadi peperangan antar banua. Dan hal yang menaktukan lagi adalah beroperasinya yang disebut “Emali”, yakni pemenggal kepala. Dari segi kepercayaan, masyarakat Nias saat itu memiliki banyak patung di setiap rumah yang dipercayai sebagai “wujud Allah” yang menyalurkan berkat, terlebih berkat dari “arwah nenek moyang”. Selain itu, mereka juga mengenal Lowalangi yang bersemayam di Teteholi Ana’a. Di lain pihak, mereka juga mengenal banyak Allah di dalam bidang kehidupan. Misalnya, pemilik ternak di Hutan disebut “Bela”, pemilik ternak piaraan disebut “Sobawi”, pemilik ladang dan sawah adalah “Sibaya Wakhe”, penguasa di arena perang disebut “so’aya”, penguasa di Sungai disebut “Tuha Zangarõfa”, dan sebagainya. Dalam kondisi seperti itu, Denninger dan Missionaris lainnya melakukan pelayanan. Mereka mengalami kesulitan, karena selain kekurangan mereka menguasai bahasa dan budaya Nias, juga karena sifat orang Nias yang waktu itu kurang tertarik pada Injil. L. E. Denninger pernah mengeluh:

“Fa’atebakha Nono Niha ba gefe ba ba hare, da’õ zi mõi bõrõ wa’alua ngawalõ zi lõ sõkhi, samõbõ ba samesu ya’ira, da’õ zamõnui tõdõ ba era’erara, irege lõ tesõndra nahia Daroma Li Lowalangi khõra”
—(Ketamakan akan uang dan untung, itulah akar segala kejahatan yang mengikat dan memenuhi hati mereka, sehingga tiada tempat bagi Injil)

Namun demikian, Denninger terus gigih melakukan pelayanan. Ia mencintai Ono Niha. Walaupun ada kesan bahwa RMG lebih besar perhatiannya di Tanah Batak, namun Denninger tidak putus asa. Ketika Missionaris Wilhelm Kõdding dan August Mohri meninggalkan Pulau Nias karena alasan “sakit” dan “mereka dibutuhkan di Tanah Batak”, Denninger memang sangat sedih, dan mengeluh, katanya:

“Irege da’e no tegaõlõ manõ Lazaro-Ono Niha andrõ fõna mbawandruhõ zebua ana’a andrõ. Omasi ia abuso ia ba mbungombungo gõ sagatoru moroi ba meza zo’ana’a andrõ. Hadia akha telõgu manõ ia ba da’õ, lõ mutolo?”
—(Hingga sekarang, Lazarus-Ono Niha telah terhempas lemas di depan rumah orang kaya itu. Ia ingin makan dan kenyang dari sisasisa makanan yang jatuh dari meja orang kaya tersebut. Apakah dibiarkan begitu saja ia terhempas lemas, tanpa pertolongan?)

Denninger tak terus melaksanakan kunjungan dan percakapan dengan orang-orang Nias. Ia melaksanakan pelayanan dengan berbagai cara, sehingga setelah kurang lebih sembilan tahun, baru ada yang tergerak hatinya dan menerima Yesus sebagai juruslamat mereka.

Pembangunan Pendidikan dan Kesehatan

Denninger dan juga missionaris lainnya menyadari bahwa pendidikan merupakan kunci pembangunan manusia dan masyarakat. Oleh karena itu, ia dan didukung oleh pemerintah Belanda yang ada di Gunungsitoli memulai pelayanannya dengan membuka sekolah. Muridnya sangat sedikit. Pada awalnya hanya 6 orang, termasuk di antaranya anak seorang balugu/salawa yang bernama “Kaneme”. Anak-anak mau sekolah hanya untuk mencari “pemberian” dari Denninger dan bila tidak ada hadian maka merekapun tidak mau datang belajar. Pengkaderanpun dilakukan oleh Denninger dengan mempersiapkan tenaga guru sebanyak 2 orang dan inilah nanti yang merupakan cikal-bakal dibukanya Seminari yang dimulai di Dahana oleh Sundermann, lalu diformalkan oleh W.J. Thomas di Humene dan dikembangkan di Ombôlata. Selain itu, Denninger juga menyusun dan mencetak bahan pengajaran untuk sekolah rakyat. Sejarah mencatat bahwa para missionarislah yang memulai pendidikan di Nias, dan baru nanti pada tahun 1930-an Belanda membuka sekolah di Gunungsitoli.

Selain pelayanan pendidikan dan diakonia (membagi-bagikan pakaian, tembakau, dll), para Missionaris juga berusaha merespon permasalahan yang terjadi di Nias. Berhubung pada waktu itu meraja-lela berbagai penyakit, terlebih malaria, maka missionaris membagi-bagikan obat. Ini sangat membantu karena para dukun yang disebut “ere” tidak lagi mampu mengobati dengan cara tradisionil, sehingga ada banyak yang meninggal dunia. Namun dengan obat-obatan dari Missionaris, masyarakat dapat terbantu dari penyakit yang mewabah melanda mereka. Pelayanan ini dikemudian hari ditingkatkan dengan membuka Pos Pelayanan kesehatan, bahkan Gerejalah yang memulai membuka Rumah Sakit dan itulah cikal-bakal Rumah Sakit Umum Gunungsitoli sekarang ini. Denninger termasuk seorang tokoh pembaharu (reformasi) dan Pembangunan Nias.

Paskah 1874: Baptisan Pertama

Selain pelayanan pendidikan, diakonia dan kesehatan, Denninger dan dibantu oleh isterinya terus melakukan pelayanan dan kunjungan dari rumah ke rumah di desa-desa sekitar Gunungsitoli. Mereka bercakap-cakap dengan masyarakat, memberitakan keselamatan dan hidup yang kekal.

Setelah 6 tahun melakukan pelayanan, maka pada suatu minggu di bulan april 1871 – terdapat sekitar 140 orang yang datang mengikuti kebaktian minggu yang dipimpin oleh L.E. Denninger. Orang Nias mau datang, tetapi dengan harapan bahwa selesai kebaktian mereka akan mendapat tembakau, obat-obatan dan uang sebesar 3 rimis.

Sedikit melegakan hati Denninger bahwa RMG mulai memberi perhatian ke Nias dengan mengutus Wihlem Thomas yang tiba di Nias tanggal 14 Februari 1872 dan disusul oleh Friedrich Kramer pada tanggal 1 April 1873. Inilah yang membantu Denninger, baik di sekolah maupun di pelayanan Pekabaran Injil. Memang sulit, tetapi pada akhirnya, hati orang Nias terbuka untuk Injil. Masyarakat asal Hilina’a dan Onozitoli sebanyak 25 orang (termasuk keluarga Salawa Yawaduha) memberi diri dibaptis pada kebaktian Paskah, tanggal 5 April 1874 di Gereja (Lods) Gunungsitoli. Pembaptisan ini dilaksanakan oleh Denninger (untuk 12 orang) dan oleh Kramer (bagi 13 orang). Inilah orang Nias yang ada di Nias yang pertama sekali menerima Injil dan memberi diri dibaptis menjadi Kristen. Tidak berhenti sampai di sana, semasih Denninger berada di Nias, pada tanggal 23 Agustus 1874 terdapat 19 orang yang telah mengikuti katekisasi, memberi diri dibaptis. Peristiwa ini menyukakan hati Denninger, sehingga ia mendesak RMG untuk meningkatkan jumlah missionaries yang diutus melayani di Nias. Denninger dengan mengutip informasi dari pejabat pemerintah Belanda menyatakan bahwa terdapat sekitar 800.000 orang di Pulau Nias. Mereka membutuhkan kasih dan pelayanan. Mereka perlu diselamatkan. Denninger mengatakan:

“Da’õ halõwõ sinangea muhalõ ba halõwõ famatenge khõda, ya’ia wamazaewe awõ wamõnui niha sato sibai andre faoma Turia somuso dodo.”
—(Pokok utama pekerjaan misi ialah menyebarkan dan memenuhi orang banyak ini (Nias) dengan Kabar baik, kabar keselamatan)

Walaupun Denninger dan missionaris lainnya turut bersedih bersama dengan jemaat asal Hilina’a Karena pada tanggal 10 Mei 1875, namun suatu sukacita lain, dimana Denninger punya kesempatan terakhir mengikuti sakramen Baptisan kudus yang dipersiapkan oleh Friedrich Kramer adalah 27 Juni 1875. Itu berarti sebelum ia berangkat ke Batavia. Pada waktu itu Denninger yang melayani Pemberitaan Firman Tuhan, Kramer yang melaksanakan ujian katekisasi dan mereka berdua bersama-sama melaksanakan pembaptisan. Setelah acara Baptisan Kudus, mereka makan bersama di rumah Denninger. Berkumpul lebih 100 orang. Ini semacam perjamuan terakhir. Pada acara tersebut, pejabat pemerintah, Gouvermentsscretars memberikan kata sambutan. Ia mengatakan:

“Ahõli dõdõgu, wa no tola musindro mbanua niha Keriso (Jemaat) andre, ba zi lõmanõ fanolo si oroi zamatõrõ”.
—(Sungguh menakyubkan bahwa dapat berdiri jemaat di sini, walaupun tidak ada bantuan pemerintah)

Selain Baptisan yang telah terlaksana, hal lain yang menyukakan hati L.E. Denninger adalah bahwa pada akhir tahun 1874, berhasil tercetak Injil Lukas yang diterjemahkan oleh Denninger dan dicetak serta diperbanyak (500 buah) oleh The British and Foreign Bible Society. Walaupun Thomas dan Kramer mengkritik terjemahan tersebut karena menurut mereka banyak yang tidak sesuai dengan bahasa Nias, namun harus dicatat bahwa Injil itulah yang pertama diterjemahkan, dan bahasanya lebih merupakan campuran antara logat Nias Utara dengan Logat “sumbawa”, bagian Nias Selatan (yang dipelajari Denninger di Padang).

Kembali Ke Batavia

Setelah itu baptisan pertama itu, Denninger yang sudah berumur 60 tahun mulai menderita penyakit, sehingga ia pergi cuti ke Batavia pada tahun 1875. Ia tinggal di rumah menantunya (suami Lina, seorang pegawai pemerintah Belanda yang sudah pindah dari Nias ke Bogor). Pada awalnya hanya rencana cuti dan masih ada keinginan melanjutkan pelayanan Missi, namun karena penyakit yang parah dan tak terobati, akhirnya L.E. Denninger meninggal dunia pada tanggal 22 Maret 1876, serta dikebumikan di kuburan dekat anaknya tinggal, yakni di wilayah Bogor.

Denninger, sebuah nama yang tidak asing bagi Nias. Sayangnya, kita tidak memiliki fotonya dan kita tidak mengenal tempat kuburannya. Namun, namanya dan pelayanannya tetap melekat dalam lubuk hati orang Kristen di Nias. Firman Tuhan mengatakan: “Ingatlah akan pemimpin-pemimpin kamu, yang telah menyampaikan Firman Allah kepada kamu” [Ibrani 13:7a]. Dia adalah rasul orang Nias. Dia adalah pelopor reformasi dan pembangunan Nias.

 

Ya’ahowu!

 

Sumber: Sinode BNKP


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.